Antikonvulsan
(antikejang) digunakan untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi
(epileptic seuzure) dan bangkitan non-epilepsi. Epilepsi didefinisikan sebagai
serangan paroksismal berulang dengan interval lebih dari 24 jam tanpa penyebab
yang pasti. Serangan paroksismal tersebut dapat bermanifestasi sebagai
positif eksitasi (motorik, sensorik, psikis) atau bermanifestasi negatif
(hilangnya kesadaran, tonus otot, atau kemampuan bicara) atau gabungan dari
keduanya. International League Against Epilepsy (ILAE) dan International Bureau
for Epilepsy (IBE) pada tahun 2005 merumuskan kembali definisi epilepsi yaitu
suatu kelainan otak yang ditandai oleh adanya faktor predisposisi yang dapat
mencetuskan bangkitan epileptik, perubahan neurobiologis, kognitif, psikologis
dan adanya konsekuensi sosial yang diakibatkannya.
Kejang adalah suatu
gejala akibat lepasnya muatan listrik yang berlebihan dari sebuah fokus kejang
atau dari jaringan normal yang terganggu akibat suatu keadaan patologik. Manifestasi
klinik kejang dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik,
sensorik atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang
berlebihan di neuron otak (Schweich and Zempsky, 1999).
Konvulsi adalah
manifestasi gangguan otak, lokal atau umum, dapat terjadi oleh karena cacat
bawaan, penyakit degenerasi, trauma SSP, anoksia, demam, gangguan metabolisme,
epilepsi, anafilaksis, neoplasma, penyakit serebrovaskulus, keracunan dan
gejala putus alkohol atau obat lain.
Obat anti epilepsi (OAE)
bekerja melawan bangkitan melalui berbagai target seluler, sehingga mampu
menghentikan aktivitas hipersinkroni pada sirkuit otak. Mekanisme kerja OAE
dapat dikategorikan dalam empat kelompok utama : (1) modulasi voltage-gated ion
channels, termasuk natrium,kalsium, dan kalium; (2) peningkatan inhibisi GABA
melalui efek pada reseptor GABA-A, transporter GAT-1 GABA, atau GABA
transaminase; (3) modulasi langsung terhadap pelepasan
sinaptik seperti SV2A dan α2δ; dan (4) inhibisi sinap eksitasi melalui reseptor
glutamat ionotropik termasuk reseptor AMPA. Efek utama adalah modifikasi
mekanisme burst neuron dan mengurangi sinkronisasi pada neuron. OAE juga menghambat
firing abnormal pada area lain. Beberapa bangkitan, misalnya bangkitan absans tipikal
disebabkan karena sinkronisasi talamokortikal, sehingga OAE yang bekerja menghambat
mekanisme tersebut efektif untuk mengobati bangkitan absans tipikal. Kebanyakan
target OAE adalah pada kanal natrium, kalium, dan reseptor GABA-A3,4 Ringkasan
mekanisme kerja OAE dapat dilihat pada gambar 1.
saraf inhibisi (kiri) maupun eksitasi (kanan). AMPA, α-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-isoxazole-propionic acid; GABA, γ-aminobutyric acid;GAT-1, sodium- and chloride depended GABA transporter 1; SV2A, synaptic vesicle glycoprotein 2A10
MEKANISME KERJA PADA VOLTAGE-GATED SODIUM CHANNELS :
Kanal ini
berperan penting dalam
inisiasi dan propagasi aksi potensial neuron. Depolarisasi
neuronal beberapa milivolt
dapat sebabkan oleh aktivasi reseptor
glutamat, terutama reseptor AMPA, selanjutnya
mengaktifkan kanal natrium sehingga kanal
terbuka dan natrium
masuk ke dalam sel.
Kanal ini hanya
terbuka dalam waktu beberapa milidetik, akan
memicu depolarisasi
sehingga terjadi aksi
potensial. Setelah itu
kanal menjadi inaktif, akan
tetapi sekitar 1%
arus natrium masi berlangsung melalui kanal menyebabkan arus
natrium persisten (INaP).
InaP akan menurunkan ambang aksi potensial sehingga menyebabkan burst
firing, yang kemudian menjadi berulang. Voltage-gated
sodium channel merupakan kompleks protein multimer, terdiri dari subunit α dan
β. OAE yang bekerja pada voltage-gated
sodium channel sering disebut dengan
sodium channel blockers,
bekerja baik pada epilepsi dengan bangkitan fokal maupun umum, yaitu
phenytoin, carbamazepin, lamotrigine, oxcarbazepine, dan lacosamide.
Kelompok obat ini memiliki karakteristik “use-dependent” blocking
action , artinya
lebih poten menghambat aksi
potensial frekuensi tinggi
yang muncul berturut-turut dari pada aksi potensial tunggu atau yang
frekuensinya rendah. Mekanisme
penghambatannya juga tergantung
besar voltase, sehingga
lebih poten menghambat aksi potensial seperti yang
terjadi pada bangkitan. Obat-obat tersebut juga
menghambat pelepasan sejumlah
neurotransmiter termasuk glutamat.
MEKANISME KERJA PADA T-TYPE
VOLTAGE- GATED CALCIUM CHANNELS
Low voltage-activated (T-type)
calcium channels berperan dalam osilasi talamokortikal intrinsik yang mendasari
letupan spike-wave yang
terjadi Kanal kalsium tipe T ditalamus dan korteks berperan pada
abnormalitas sirkuit ini, dengan menimbulkan spike ambang rendah sehingga
berkembang menjadi burst firing dan osilasi. Neuron GABAergik di nukleus
retikular talamik juga berperan besar dalam bangkitan absans, melalui
hiperpolarisasi neuron GABAergik dan selanjutnya mengaktifkan kanal kalsium
tipe T. Selanjutnya akan timbul burst firing dan propagasi letupan spike-wace
pada sirkuit talamokortikal.
MEKANISME KERJA PADA INHIBISI GABA
GABA merupakan neurotransmiter inhibisi interneuron lokal, bekerja
melalui reseptor GABA-A dan GABA-B. Reseptor GABA-A merupakan
ligand-gated chloride channel tipe
Cys-loop yang merupakan target dari banyak OAE. Reseptor GABA-B merupakan reseptor heterodimer G protein-coupled yang
mengaktivasi kanal kalium dan
menghambat kanal kalium.
GABA-B berbeda baik fungsi
dan strukturnya dengan
GABA-A, dan bukan merupakan
target dari OAE. Jumlah neuron GABA hanya seperlima
dari seluruh neuron,
akan tetapi kelompok tersebut berperan penting dalam mengontrol firing
rate dan waktu
eksitasi neuron, serta sinkronisasi neuron
yang menuju ke
arah epileptik.
Modulator Reseptor GABA-A
Benzodiazepine (diazepam,
lorazepam, clonazepam, barbiturat/fenobarbital) bekerja pada reseptor GABA-A
sebagai modulator allosterik positif. Pada konsentrasi tinggi barbiturat dapat
mengaktivasi reseptor GABA-A secara langsung meskipun tidak terdapat GABA. Hal
ini tidak dapat dilakukan oleh benzodiazepine. Benzodiazepine spesifik untuk
sinap reseptor GABA-A yang mengandung subunit γ2 dan secara alosterik
memodulasi reseptor tersebut sehingga meningkatkan frekuensi
pembukaan kanal, dan akhirnya meningkatkan sinap inhibisi.
Khusus pada epilepsi absans, benzodiazepine diduga
mampu melakukan
desinkronisasi osilasi talamokortikal yang menyebabkan spike
wave discharge melalui sub
unit α3 dari
reseptor GABA-A di
nukleus retikular talamus. Barbiturat
tidak spesifik untuk sub
unit tersebut, sehingga
tidak berperan aktif dalam
terapi epilepsi absans,
bahkan mungkin dapat memperburuk
bangkitan. Barbiturat juga tidak
meningkatkan frekuensi pembukaan
kanal klorida yang diinduksi
GABA, akan tetapi
lebih pada modulasi sistem
kanal ion seperti
kanal kalsium dan natrium.
Inhibitor Transporter GABA GAT-1
Setelah GABA
selesai bekerja akan
mengalami uptake ke dalam
neuron dan sel
glia melalui transporter GABA
yang terletak di membran (GAT). Terdapat
lima tipe, yaitu
vesicular GAT, GAT-1, (betaine-GABA transporter)
BGT-1/GAT-2, GAT-3, dan GAT-4.
Vesicular GAT berfungsi dalam transpor GABA
daslam vesikel sinaptik
sebagai persiapan pelepasan eksositosis
sinaptik. GAT1 dikode oleh
gen SLC6A1, banyak
didapatkan pada forebrain
(termasuk neokorteks dan hipokampus).
Protein ini terletak di terminal neuron
GABA-ergik dan prosesus sel
glia yang dekat
dengan sinaps GABA.
Inhibitor GABA Transaminase
GABA transaminase (4-aminobutyrate
aminotransferase) merupakan enzim
yang mengkatalisir perubahan GABA dan 2-oxoglutarate menjadi succinic
semialdehyde dan glutamat, sebagai metabolit
GABA inaktif. Inhibisi
GABA transaminase dengan vigabatrin
(GABA γ-vinyl) akan menyebabkan
peningkatan GABA dalam otak yang
bermakna. Vigabatrin tidak
meningkatkan atau
memperpanjang respon sinaptik yang diperantarai oleh
reseptor GABA-A. Vigabatrin meningkatkan arus
tonik non sinaptik
reseptor GABA-A. Kadar GABA
intrasel yang tinggi
akan menurunkan
transporter GABA sehingga
kadar GABA ekstrasel meningkat dan meningkatkan arus tonik reseptor
GABA-A.
MEKANISME KERJA PADA RESEPTOR AMPA
Perampanel merupakan
antogonis reseptor AMPA non kompetitif
yang tidak mempengaruhi
respon reseptor NMDA dan
kanal ion lain
pada konsentrasi terapetik. AMPA
merupakan kanal kation yang
bekerja sebagai mediator utama untuk eksitasi
sinaptik cepat (dalam
waktu milidetik). Kaskade eksitasi
dalam jaringan sinap
neuron merupakan kunci utama
sinkronisasi epileptik,
terutama di daerah
CA3 hipokamus. Perampanel cukup efisien
menghambat bangkitan dalam konsentrasi rendah.
Rentang terapi perampanel cukup pendek.
Efek samping susunan
saraf pusat seperti dizziness
dan somnolen sering
dijumpai terutama pada dosis
tinggi.
Prinsip Mekanisme Kerja Antieplepsi :
1. Stabilisasi
sel saraf dengan cara memblok kanal ion (Na, Ca)
2. meningkatkan
transimisi inhibitori GABA-ergik
3. Menurunkan
transmisi glutamat
a. Golongan hidantoin
Pada golongan ini terdapat 3 senyawa yaitu
Fenitoin, mefentoin dan etotoin,
dari ketiga jenis itu yang sering
digunakan adalah Fenitoin dan digunakan
untuk semua jenis bangkitan kecuali
bangkitan Lena.
b. Golongan barbiturat
Golongan obat ini sebagai hipnotik-sedatif
dan efektif sebagai antikonvulsi
yang sering digunakan adalah barbiturat
kerja lama (Long Acting
Barbiturates). Jenis obat golongan ini
antara lain fenobarbital dan primidon,
kedua obat ini dapat menekan letupan di
fokus epilepsi.
c. Golongan oksazolidindion
Salah satu jenis obatnya adalah
trimetadion yang mempunyai efek
memperkuat depresi pasca transmisi
sehingga transmisi impuls berurutan
dihambat.
d. Golongan suksinimida
Obat yang sering digunakan di klinik adalah
jenis etosuksimid, metsuksimid
dan fensuksimid yang mempunyai efek sama
dengan trimetadion.
Etosuksimid merupakan obat pilihan untuk
bangkitan lena.
e. Golongan karbamazepin
Obat ini efektif terhadap bangkitan
parsial komplek dan bangkitan tonik
klonik dan merupakan obat pilihan pertama
di Amerika Serikat untuk
mengatasi semua bangkitan kecuali lena.
f. Golongan benzodiazepin
Salah satu jenisnya adalah diazepam,
disamping sebagai anti konvulsi juga
mempunyai efek antiansietas dan merupakan
obat pilihan untuk status
epileptikus.
g. Obat - obat generasi kedua
Vigabatrin, lamotrigin, gabapentin,
felbamat, tiagabin, topiramat dan
zonisamida.
Efek samping obat antikonvulsan sebagai analgesik adalah sebagai berikut :
- Karbamazepin
karbamazepin memiliki efek samping yaitu berupa penglihatan kabur, pusing, ataksia, depresi, hiponatremi dan gangguan jantung. karbamazepin dapat mengurasi plasma 25-hydroxy dan level vitamin D. pada reaksi pada sistem hematopoetik, efek sampingnya dapat berupa anemia aplastik dan agranulositosis, karbamazepin juga dapat berisiko menyebabkan reaksi pada kulit seperti sindrome stevens johnson dan toksis epidermal.
2. Fenitoin
fenitoin memiliki efek samping yang dapat terjadi adalah nistagmus, bicara melantur, koordinasi berkurang dan gangguan mental.
3. Lamotigrin
lamotigrin dapat menyebabkan pusing, sakit kepala, diplopia, ataksia, mual, pandangan kabur, somnolen, rhinitis dan ruam pada kulit.
4. Gabapentin
efek samping yang paling konsisten dari gabapentin adalah mengantuk dan pusing, sementara efek samping yang dianggap minor yaitu kekhawatiran pada populasi lanjut usia, yang rentan terhadap cedera dari jatuh dan ketidakstabilan.
5. pregabalin
memiliki efek samping yang ringan sampai sedang yang tergantung dengan dosis. efek samping yang dapat terlihat adalah pusing, samnolen, mulut kering, edema perifer, pandangan kabur, penambahan berat badan dan pemikiran yang abnormal.
6. valproat
memiliki efek samping yang paling sering yaitu mual, somnolen, pusing dan muntah. valproat memiliki resiko terhadap hepatotoksik, teratogen, dan pankreatitis.
7. topiramat
efek samping topiramat berupa parastesia, anoreksia, penurunan berat badan, kelelahan, pusing, somnolen, susah konsentrasi, bingung dan gangguan mood.
Mekanisme Kerja Antiepilepsi
Terdapat 2 mekanisme antikonvulsi yang penting yaitu (1) dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam fokus epilepsi (2) dengan mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengeruh fokus epilepsi. Bagian terbesar antiepilepsi yang dikenal termasuk dalam golongan terakhir ini.Mekanisme kerja antiepilepsi hanya sedikit yang di mengerti secara baik. Berbagai obat antiepilepsi diketahui mempengaruhi berbagai fungsi neurofisiologik otak, terutama yang mempengaruhi system inhibisi yang melibatkan GABA dalam mekanisme kerja berbagai antiepilepsi.
Mekanisme Kerja
Pada prinsipnya ,obat antiepilepsi bekerja untuk menghambat proses inisiasi dan penyebaran kejang. Namun, umumnya obat antiepilepsi lebih cenderung bersifat membatasi proses penyebaran kejang daripada mencegah proses inisiasi. Dengan demikian secara umum ada dua mekanisme kerja, yakni: peningkataninhibisi (GABA-ergik) dan penurunan eksitasi yang kemudian memodifikasi konduksi ion: Na+, Ca2+, K+, dan Cl- atau aktivitas neurotransmitor, meliputi:
1) Inhibisi kanal Na+ pada membrane sel akson.
Contoh: fenitoin dan karbamazepin (pada dosis terapi), fenobarbital dan asam valporat (dosis tinggi), lamotrigin, topiramat, zonisamid.
2) Inhibisi kanal Ca2+ tipe T pada neuron thalamus (yang berperan sebagai pece-maker untuk membangkitkan cetusan listrik umum di korteks).
Contoh: etosuksimid, asam valporat, dan clonazepam.
3) Peningkatan inhibisi GABA
a. Langsung pada kompleks GABA dan kompleks Cl-.
Contoh: benzodiazepine, barbitural.
b. Menghambat degradasi GABA, yaitu dengan mempengaruhi re-uptake dan metabolism GABA.
Contoh: tiagabin, vigabarin, asam valporat, gabapentin.
4) Penurunan eksitasi glutamate, yakni melalui:
a. Blok reseptor NMDA, misalnya lamogatrigin.
b. Blok reseptor AMPA, misalnya fenobarbital, topiramat.
Banyak obat epilepsy bekerja pada beberapa tempat.
Valproate
Valproate memiliki berbagai efek
farmakologis, diduga secara bersama-sama dapat menghambat timbulnya bangkitan.
Dari sejumlah mekanisme kerjanya, mekanisme yang terkait GABA tampaknya yang
paling relevan dengan efek terapi, meskipun obat ini tidak memiliki efek pada
sistem GABA secara langsung. Valproate meningkatkan pergantian GABA, yang
mungkin berhubungan
dengan inhibisi sinaptik atau
ekstrasinaptik. Terdapat sedikitnya empat mekanisme utama dalam peningkatan
konsentrasi GABA dalam otak : 1) inhibisi degradasi GABA, 2) peningkatan
sintesis GABA, 3) penurunan pergantian GABA, dan 4) penurunan reuptake GABA.
Pada konsentrasi tinggi, valproate mempengaruhi voltage-gated sodium channels ,
akan tetapi hal ini tidak didapatkan pada penelitian dengan menggunakan irisan
jaringan otak. Meskipun bemanfaat untuk epilepsi absans, ternyata tidak banyak
ditemukan bukti bahwa valproate bekerja pada kanal kalsium tipe T. Studi in
vitro menunjukkan bahwa valproate meningkatkan aktivitas glutamic acid decarboxylase
(GAD) yang meningkatkan sintesis GABA dan menghambat GABA-T, enzim yang
mendegradasi GABA. Sama dengan fenitoin
dan carbamazepine, valproate menurunkan waktu recovery voltage-dependent sodium
channel saat dalam kondisi inaktif. Valproate juga bekerja pada jalur sinyal
kinase, yaitu aktivasi protein kinase yang penting untuk keselamatan neuron
seperti Akt/PKB dan mitogen-activated protein kinase (MAPKs), extracellular
signal-regulated kinases 1 & 2 (ERK1/2), serta menghambat glycogen synthase
kinase (GSK-3β) dan protein kinase C (PKC). Valproate dapat mengatur ekspresi
gen melalui inhibisi hysotne deacetylase (HDAC) klas I dan II, diduga melalui
aktivitas transcription factor activator protein (AP-1). AP-1 merupakan faktor transkripsi
untuk sejumlah fungsi otak yang penting seperti perkembangan, plastisitas, dan neurodegenersi.
Efek lain yaitu efek antiinflamasi, anti apoptosis, serta regulasi diferensiasi
neural
progenitor cell (NPC). Mekanisme kerja
valproate tersebut di atas diduga mendasari efek neuroprotektifnya. Mekanisme
kerja valproate dapat dilihat pada gambar 2.
psikiatris.
Felbamate
-
Felbamat dalam dosis terapi bekerja sebagai modulator positif reseptor GABA-A dan menghambat reseptor NMDA. Peningkatan respon GABA terjadi melalui interaksi dengan reseptor. GABA-A di tempat yang berbeda dengan benzodiazepine. Blokade reseptor NMDA masih belum merupakan strategi untuk terapi epilepsi, karena itu masih belum jelas apakah efek inhibisi. Reseptor NMDA merupakan mekanisme kerja utama felbatamate untuk terapi epilepsi.TopiramateTopiramate bekerja pada voltage-gated ; sodium channels, subtipe reseptor GABA-A, reseptor AMPA/kainate, dan isoenzim anhidrase tipe II danIV. Topiramat tidak memiliki efek langsung pada kanal ion. Efek topiramat pada kanal natrium muncul pada dosis terapi yang rendah. Topiramat, seperti fenitoin, menghambat INAP pada konsentrasi rendah. Secara in vitro, topiramate mampu menghambat respon jaringan neuron terhadap kainat. Ini menunjukkan bahwa topiramate dapat menjadi antagonis reseptor AMPA atau kainat. Peran topiramate pada carbonic anhydrase diduga tidak berperan dalam efikasi klinisnya.4,6.ZonisamideTerdapat beberapa kesamaan antara topiramate dan zonisamide. Keduanya mengandung sulfur atom dan sama-sama menghambat carbonic anhydrase. Zonisamide juga bekerja pada voltage- dependent sodium channels. Obat ini tidak bekerja pada reseptro GABA-A. Zonisamide diduga menghambat kanal kalsium tipe T, yang menjelaskan efektivitasnya pada epilepsi absans.4,7.RufinamideRufinamide digunakan sebagai terapi Lennox- Gastatus syndrome. Obat ini berinteraksi dengan voltage-gated sodium channels, akan tetapi efek interaksi dan mekanisme kerjanya masih belum diketahui.AdrenokortikotropinMekanisme kerja adrenokortikotropin (ACTH) pada terapi infantile spasm tidak diketahui. ACTH menstimulasi sintesis glukokortikoid (kortisol) dan pelapasannya dari zona fasciculata di korteks adrenal. Kortisol dapat menyebabkan efek antiinflamasi atau efek lain di otak yang dapat mempengaruhi infantile spasm. Diduga kortisol berinteraksi dengan reseptor steroid yang mempengaruhi voltage-dependet calcium channel. Satu mekanisme kerja ACTH adalah stimulasi sintesis neurosteroid. ACTH juga menstimulasi pelepasan deoxycorticosterone (DOC) dari zona glomerulosa di kortek adrenal, dimana DOC dirubah menjadi neurosteorin antikonvulsan tetrahydro DOC yang bekerja sebagai modulator alosterik reseptor GABA-A.
DAFTAR PUSTAKA
Husna, M dan S.N. Kurniawan. 2018. Mekanisme Kerja Obat Anti Epilepsi Secara Biomolekuler.
Jurnal Biomoleculer Mechanism. 4(1) : 39-45.
Schweich, P. J., Zempsky, W. T, Selected topic in emergency medicine, Philadelphia : Lippicot Williams & Wilkins, 566-89.
Permasalahan :
1. Bagaimana cara membedakan orang yang kejang dan epilepsi ?
2. Bagaimana cara menolong orang yang kejang ?
3. Mengapa terapi epilepsi lebih disarankan monoterapi ?


Hai kk Mila,,informasi yang bermanfaat, saya akan mencoba menjawab permasalahan no 2 : Pertama, jangan panik. Pindahkan barang-barang berbahaya yang ada di dekat pasien, misal gelas kaca, pisau, atau barang berbahaya lainnya. Saat seseorang kejang, jangan mencoba memindahkan posisinya kecuali dengan posisi tersebut pasien dalam bahaya. Berikutnya, longgarkan kerah kemeja atau ikat pinggang agar memudahkan pernapasan. Jangan memasukkan apapun ke mulut pasien, karena hal itu justru dapat melukai pasien. Amati berapa lama orang tersebut kejang dan segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.
BalasHapusBaik terimakasih nada, sangat bermanfaat, brrti dapat disimpulkan bahwa pertolongan pertama dalam mengatasi orang yang sedang epilepsi harus cepat dilakukan.
HapusHallo kak rahimila saya akan membantu menjawab persoalan nomor 3.
BalasHapusPemilihan obat yang tepat bagi seseorang dengan epilepsi bukanlah hal yang mudah. Selain pemilihan OAE berdasarkan jenis bangkitan atau jenis sindrom epilepsinya, beberapa faktor juga harus dipertimbangkan, misalnya umur, jenis kelamin, kondisi tubuh, berat badan, dan respon masing-masing penderita terhadap pengobatan yang diberikan. Tujuan pemberian OAE adalah agar serangan epilepsi berhenti. Pada anak-anak, pemberian OAE berdasarkan anjuran dokter adalah selama 2 tahun agar anak terbebas dari kejang. monoterapi (Monotherapy) : Penggunaan terapi atau obat tunggal dalam sebuah pengobatan.
Selain monoterapi, ada pula diet ketogenik yang dapat digunakan sebagai terapi untuk epilepsi. Diet ketogenik adalah diet dengan kandungan tinggi lemak dan rendah karbohidrat dan protein sehingga memicu keadaan ketosis.
Wah jawabannya sangat membantu, saya ingin menambahkan, terapi kombinasi mungkin tampak lebih mahal daripada monoterapi dalam jangka pendek, tetapi ketika digunakan dengan tepat, itu menyebabkan penghematan yang signifikan: tingkat kegagalan pengobatan yang lebih rendah, rasio fatalitas kasus yang lebih rendah, efek samping yang lebih sedikit daripada monoterapi, perkembangan resistensi yang lebih lambat, dan dengan demikian lebih sedikit uang yang dibutuhkan untuk pengembangan obat baru.
HapusTerimakasih cindy dan monik, jadi dalam mengkonsumsi obat antikonvulsi tidak harus dikombinasikan, dimana kita dapat memilih obat yang memiliki efek yang sesuai dengan yang kita butuhkan
HapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1.Epilepsi atau yang dikenal masyarakat sebagai ayan, adalah kondisi yang ditandai dengan kejang berulang secara spontan. Tidak semua kejang adalah epilepsi, namun biasanya setiap epilepsi selalu ditandai dengan kejang. Pada umumnya, epilepsi ditandai dengan kejang tanpa faktor pencetus atau akibat penyakit otak akut.
BalasHapusSedangkan kejang terjadi sebagai akibat kelainan letupan listrik pada otak sehingga terjadi gangguan pada gerakan, sensasi, kesadaran, atau perilaku ganjil tanpa disadari penderita.
Terimakasih ega, dapat disimpulkan bahwasanya orang yang kejang belum tentu menderita epilepsi, namun orang yang epilepsi sudah tentu akan mengalami kejang terlebih dahulu
HapusMila kk mau nnya bagaimana cara kita untuk menghindari penyakit kejang? Terima kasih
BalasHapusHai kak, baik saya akan mencoba menjawab , ada beberapa cara diantaranya :
HapusBeristirahat yang cukup,
Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang,
Berolahraga secara rutin,
Mengelola stres dengan baik,
Menjauhi NAPZA,
Mengonsumsi obat sesuai saran dokter.
Bagus bgt kk buat nambah pengetahuan🙏
BalasHapusTerimakasih 🙏
Hapushai kak rahmila, mau nanya nih, untuk Obat Anti Epilepsi bisa digunakan oleh orang awam atau hanya orang-orang tertentu saja?
BalasHapusterima kasih..
Terimakasih telah berkunjung, menurut saya penggunaan obat antiepilepsi ini dikhususkan kepada orang* yang menderita epilepsi/kejang, apabila tidak ada riwayat epilepsi, maka sebaiknya tidak perlu mengkonsumsi obat tersebut karena dapat memberikan efek samping yang tidak diinginkan dan adanya kontra indikasi lainnya.
Hapus
BalasHapusHai kak mila, sangat menambah wawasan, maaf sebelumnya saya ingin bertanya, yang saya ketahui obat antikonvulsi diazepam, apakah diazepam bisa dikonsumsi semua kalangan, lalu jika tidak, pengecualian kpd siapa dan bagaimana efek yang terjadi, ?
Hai sari, terimakasih telah berkunjung. Iya betul sekali, diazepam yang merupakan golongan Benzodiazepine. Obat ini bekerja dengan cara menekan sistem saraf pusat dan meningkatkan aktivitas GABA. Contoh obat ini adalah diazepam, clonazepam, dan lorazepam. Jadi obat ini dikonsumsi sesuai resep dokter sebaiknya, kalo menurut informasi yang saya dapatkan, bahwa diazepam ini Pada ibu hamil sangat tidak dianjurkan karena dapat sangat berpengaruh pada janin. Kemampuan diazepan untuk melalui plasenta tergantung pada derajat relativitas dari ikatan protein pada ibu dan janin. Hal ini juga berpengaruh pada tiap tingkatan kehamilan dan konsentrasi asam lemak bebas plasenta pada ibu dan janin. Efek samping dapat timbul pada bayi neonatus selama beberapa hari setelah kelahiran disebabkan oleh enzim metabolism obat yang belum lengakap kompetisi antara diazepam dan bilirubin pada sisi ikatanprotein dapat menyebabkan hiperbilirubinemiapada bayi neonatus
HapusJika berusia diatas 65tahun dosis yang diberikan tidak dibolehkan terlalu tinggi karena dapat membahayakan jiwa pasien serta dapat mempengaruhi distribusi, eliminas, dan klirens dari diazepam tersebut.
Terimakasih atasbartikelnya, sangat bermanfaat sekali🙏
BalasHapus