Analgetika adalah zat yang bisa
mengurangi rasa nyeri tanpa mengurangi kesadaran (Tjay dan Rahardja, 2015). Nyeri
adalah perasaan sensoris dan emosional yang mengganggu, berhubungan dengan
ancaman, timbulnya gangguan atau kerusakan jaringan. Keadaan psikologis
seseorang sangat berpengaruh, misalnya emosi dapat menimbulkan nyeri/sakit
kepala atau membuatya semakin parah. Ambang batas nyeri yang dapat ditoleransi
seseorang berbeda – beda karena nyeri merupakan suatu perasaan subyektif
(Sherwood, 2012).
Rasa nyeri berfungsi sebagai pertanda tentang
adanya suatu gejala atau gangguan di tubuh, seperti peradangan infeksi kuman
atau kejang otot. Rasa nyeri dapat disebabkan oleh rangsang mekanis, kimiawi,
kalor atau listrik, yang dapat merusak jaringan dan melepaskan zat mediator nyeri.
Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya di ujung syaraf bebas di kulit,
selaput lendir dan jaringan lain. Rangsangan akan di dialirkan melalui syaraf
sensoris ke Susunan Syaraf Pusat (S.S.P), melewati sumsum tulang belakang ke
thalamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri yang berada di dalam otak besar, dimana
rangsangan terasa sebagai nyeri (Arif, 2010).
Patofisiologi Nyeri :
Tahap
terjadinya nyeri adalah sebagai berikut :
a. Transduksi
Proses inflamasi akan menyebabkan
teraktifasinya reseptor nyeri akibat proses kimiawi. Sensitisasi perifer dapat
mengakibatkan keadaan meningkatnya ambang nyeri pada seseorang. Apabila pada
rangsangan yang lemah terasa nyeri maka keadaan ini disebut dengan Allodinia.
Sedangkan apabila pada rangsangan yang kuat terasa sangat nyeri, maka disebut
dengan hiperalgesia. Proses transduksi dihambat oleh obat non steroid anti
inflamasi.
b. Transmisi
Proses penyaluran impuls saraf sensorik
dilakukan oleh serabut A delta bermielin dan serabut C tak bermielin. Impuls
ini akan dilanjutkan menuju traktus spinothalamikus, sebelum akhirnya
disalurkan menuju area somatik primer di korteks serebri. Proses transmisi
dapat dihambat oleh anestetik lokal di perifer maupun sentral.
c. Modulasi
Pada tahap ini impuls akan mengalami
fase penyaringan intensitas di medula spinalis sebelum dilanjutkan ke korteks
serebri. Modulator penghambat nyeri di medula spinalis terdiri dari analgetik
endogen seperti endorfin, sistem inhibisi sentral seretonin dan noradrenalin,
dan aktifitas serabut A beta
d. Persepsi
Proses ini merupakan tahap akhir dari
semua proses yang sudah disebutkan diatas. Pada tahap ini akan dihasilkan suatu
persepsi nyeri secara subjektif.
Penggolongan Analgetik
:
Penggolongan
Analgetik dibagi dalam dua kelompok besar atas dasar farmakologinya yaitu :
1. Analgetik
Perifer (Non Narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat
narkotik dan tidak bekerja sentral. Contoh : Paracetamol, asetosal, methampyron
dan ibu profen.
2. Analgetik
Narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada
fractura dan kanker. Contoh : Tramadol
Obat-obat tersebut mampu meningkatkan
atau menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi sistem syaraf pusat atau
menurunkan kesadaran, serta tidak menimbulkan ketagihan. Efek samping yang
paling umum adalah kerusakan darah (paracetamol, salisilat, derivate-derivate
antranilat dan derivate pirazolinon), kerusakan hati dan ginjal (Paracetamol
dan penghambat prostaglandin / NSAID) dan reaksi alergi pada kulit. Efek
samping terjadi terutama pada penggunaan yang lama atau dalam dosis tinggi
(Tjay dan Kirana, 2007).
Analgetika
adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem saraf pusat secara selektif,
digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran. Analgetika bekerja
dengan meningkatkan nilai
ambang persepsi rasa
sakit. Berdasarkan mekanisme kerja pada tingkat molekul, analgetika
dibagi menjadi dua golongan yaitu analgetika narkotika dan analgetika non
narkotik (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
1.
Analgetika
Narkotik
-
Pengertian
Analgetika
narkotik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem saraf pusat secara selektif,
digunakan untuk mengurangi rasa
sakit, yang moderat ataupun berat, seperti rasa sakit yang
disebabkan oleh penyakit kanker, serangan jantung akut, sesudah operasi dan
kolik usus atau ginjal (Siswandono dan Soekardjo, 2008)
-
Mekanisme kerja
Efek
analgesik dihasilkan oleh adanya pengikatan obat dengan sisi reseptor khas pada
sel dalam otak dan spinal cord. Rangsangan reseptor juga menimbulkan efek euforia
dan rasa mengantuk (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
Menurut
Beckett dan Casy, reseptor turunan morfin mempunyai tiga sisi yang sangat
penting untuk timbulnya aktivitas analgesik yaitu:
1. Struktur
bidang datar, yang mengikat cincin aromatic obat melalui ikatan van der Waals
2. Tempat
anionik, yang mampu berinteraksi dengan muatan positif obat
3. Lubang
dengan orientasi yang sesuai untuk menampung bagian –CH2-CH2- dari proyeksi
cincin piperidin yang
terletak di depan
bidang yang mengandung cincin
aromatic dan pusat dasar.
-
Penggolongan
a)
Turunan
Morfin
Hubungan
struktur dan aktivitas morfin dijelaskan sebagai berikut:
Fenolik OH
Metilasi gugus
fenolik OH dari morfin akan mengakibatkan penurunan aktivitas analgesik secara
drastis. Gugus fenolik bebas adalah sangat krusial untuk aktivitas analgesik (Patrick,
1995).
Alkohol
Penutupan atau
penghilangan gugus alkohol
tidak akan menimbulkan penurunan efek analgesik dan pada
kenyataannya malah sering menghasilkan efek yang berlawanan. Peningkatan aktivitas lebih disebabkan oleh
sifat farmakodinamik dibandingkan dengan afinitasnya dengan reseptor
analgesik. Dengan kata lain,
lebih ditentukan oleh
berapa banyak obat
yang mencapai reseptor, bukan
seberapa terikat dengan reseptor (Patrick, 1995).
Analog morfin
menunjukkan kemampuan untuk
mencapai reseptor lebih efisien dibandingkan dengan morfin itu
sendiri. Hal ini disebabkan karena reseptor analgesik terletak di otak dan
untuk mencapai otak, obat harus melewati sawar darah otak.
Dalam rangka untuk
mencapai otak, maka terlebih
dahulu harus melewati barier ini.
Mengingat barier tersebut adalah lemak maka senyawa yang bersifat polar akan
kesulitan menembus membran. Morfin memiliki tiga gugus polar (fenol, alkohol
dan, amin) sedangkan analognya telah kehilangan gugus polar alkohol atau
ditutupi dengan gugus alkil atau asil. Dengan demikian maka analogmorfin akan
lebih mudah masuk ke otak dan terakumulasi pada sisi reseptor dalam jumlah yang
lebih besar sehingga aktivitas analgesiknya juga lebih besar (Patrick, 1995).
Ikatan Rangkap pada C7
dan C8
Beberapa analog
termasuk dihidromorfin menunjukkan
bahwa ikatan rangkap tidak penting untuk aktivitas
analgesik (Patrick, 1995).
Gugus
N-Metil
Atom nitrogen
dari morfin akan
terionisasi ketika berikatan
dengan reseptor. Penggantian
gugus N-metil dengan proton mengurangi aktivitas analgesik tetapi tidak
menghilangkannnya. Gugus NH lebih polar dibandingkan dengan gugus N- metil tersier
sehingga menyulitkannya dalam
menembus sawar darah
otak akibatnya akan menurunkan
aktivitas analgesik. Hal
ini menunjukkan bahwa substitusi N-metil
tidak terlalu signifikan
untuk aktivitas analgesik.
Sedangkan penghilangan atom N akan menyebabkan hilangnya aktivitas
(Patrick, 1995).
Cincin Aromatik
Cincin aromatik
memegang peranan penting
dimana jika senyawa
tidak memiliki cincin aromatik tidak akan menghasilkan aktivitas
analgesik. Cincin A dan nitrogen merupakan
dua struktur yang
umum ditemukan dalam
aktivitas analgesik opioid. Cincin A dan nitrogen dasar adalah komponen
penting dalam efek untuk µ agonis, akan tetapi jika hanya kedua komponen ini
saja, tidak akan cukup juga untuk menghasilkan aktivitas, sehingga penambahan
gugus farmakofor
diperlukan. Substitusi pada
cincin aromatik juga
akan mengurangi aktivitas analgesik (Patrick, 1995).
Jembatan Eter
Pemecahan jembatan
eter antara C4 dan C5
akan munurunkan aktivitas (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
Stereokimia
Morfin
adalah molekul asimetrik yang mengandung beberapa pusat kiral dan secara alami
sebagai enansiomer tunggal. Ketika morfin pertama kali disintesis, dibuat
sebagai sebuah rasemat dari campuran enansiomer alami dan bagian mirror- nya. Ini selanjutnya
dipisahkan dan “Unnatural”
morfin dites aktivitas analgesiknya dimana hasilnya tidak
menunjukkan aktivitas (Patrick, 1995). Hal
ini disebabkan karena
interaksi dengan reseptornya
dimana telah diidentifikasi bahwa
setidaknya ada tiga interaksi penting melibatkan fenol, cincin aromatik dan
amida pada morfin. Reseptor mempunyai
gugus ikatan komplemen yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga mampu
berinteraksi dengan ketiga gugus tadi. Sedangkan pada “Unnatural” morfin hanya
dapt terjadi satu interaksi resptor dalam sekali waktu (Patrick, 1995).
Epimerization pusat
kiral tunggal seperti
posisi 14 tidak
juga menguntungkan, karena perubahan
stereokimia di bahkan
satu pusat kiral
dapat mengakibatkan perubahan
bentuk yang drastis, sehingga mustahil bagi molekul untuk berikatan dengan
reseptor analgesik (Patrick, 1995).
Penghilangan Cincin E
Penghilangan
cincin E akan mengakibatkan kehilangan seluruh aktivitas, hal ini menunjukkan
pentingnya nitrogen untuk aktivitas analgesik (Patrick, 1995).
Penghilangan Cincin D
Penghilangan jembatan
oksigen memberikan serangkaian senyawa yang disebut morphinan yang memiliki
aktivitas analgesik yang bermanfaat. Ini menunjukkan bahwa jembatan oksigen tidak
terlalu penting (Patrick, 1995).
Pembukaan Cincin C dan
D
Pembukaan
kedua cincin ini akan menghasilkan gugus senyawa yang dinamakan benzomorphan yang
mempertahankan aktivitas analgesik.
Hal ini menandakan bahwa cincin C dan D tidak penting
untuk aktivitas analgesik (Patrick, 1995).
· Diagram
Permukaan Reseptor Analgesik yang Sesuai Dengan Permukaan Molekul Obat
Penggolongan Analgetik
non Narkotik :
·
analgetik-antipiretik
-
turunan anilin dan p-aminofenol
(asetanilid, fanasetin)
-
turunan 5-pirazolon (antipirin,
metampiron, propifenazon)
·
antiradang bukan steroid [NSAID]
-
turunan salisilat (asam salisilat,
salisilamida, asetosal)
-
turunan 5-pirazolidindion (fenilbutazon,
sulfinpirazon)
-
turunan N-arilantranilat (asam
mefenamat)
-
turunan asam arilasetat (diklofenak,
ibuprofen)
-
turunan asam heteroarilasetat (asam
tiaprofenat, fentiazak)
-
turunan oksikam (piroksikam, tenoksikam)
-
turunan lain-lain (benzidamin, asam
niflumat)
Turunan Morfin :
Morfin mempunyai tiga gugus polar yaitu
fenol, alkohol dan amin, sedangkan analognya telah kehilangan gugus polar
alkohol ataupun ditutupi dengan gugus alkil atau asil, sehingga analog morfin
akan lebih mudah masuk ke otak dan dapat terakumulasi pada sisi reseptor dalam
jumlah yang lebih besar sehingga aktivitas analgesiknya juga lebih besar.
· Metilasi gugus fenolik OH dari morfin
akan mengakibatkan penurunan aktivitas analgesik secara drastis. Gugus fenolik
bebas adalah sangat krusial untuk aktivitas analgesik.
·
Penutupan atau penghilangan gugus
alkohol tidak akan menimbulkan penurunan efek analgesik dan pada kenyataannya
malah sering menghasilkan efek yang berlawanan. Peningkatan aktivitas lebih
disebabkan oleh sifat farmakodinamik dibandingkan dengan afinitasnya dengan
reseptor analgesik.
·
Beberapa analog termasuk dihidromorfin
menunjukkan bahwa ikatan rangkap tidak penting untuk aktivitas analgesik.
·
Penggantian gugus N-metil dengan proton
mengurangi aktivitas analgesik tetapi tidak menghilangkannnya. Gugus NH lebih
polar dibandingkan dengan gugus N-metil tersier sehingga menyulitkannya dalam
menembus sawar darah otak akibatnya akan menurunkan aktivitas analgesik. Hal
ini menunjukkan bahwa substitusi N-metil tidak terlalu signifikan untuk
aktivitas analgesik. Sedangkan penghilangan atom N akan menyebabkan hilangnya
aktivitas.
·
Cincin aromatik memegang peranan penting
dimana jika senyawa tidak memiliki cincin aromatik tidak akan menghasilkan
aktivitas analgesik. Substitusi pada cincin aromatik juga akan mengurangi
aktivitas analgesik.
·
Pemecahan jembatan eter antara C4 dan C5
akan munurunkan aktivitas.
·
Adanya perubahan stereokimia di bahkan
satu pusat kiral dapat mengakibatkan perubahan bentuk yang drastis, sehingga
mustahil bagi molekul untuk berikatan dengan reseptor analgesi.
·
Penghilangan cincin E akan mengakibatkan
kehilangan seluruh aktivitas, hal ini menunjukkan pentingnya nitrogen untuk
aktivitas analgesik.
·
Penghilangan jembatan oksigen memberikan
serangkaian senyawa yang disebut morphinan yang memiliki aktivitas analgesik
yang bermanfaat. Ini menunjukkan bahwa jembatan oksigen tidak terlalu penting.
·
Pembukaan kedua cincin ini akan
menghasilkan gugus senyawa yang dinamakan benzomorphan yang mempertahankan
aktivitas analgesik. Hal ini menandakan bahwa cincin C dan D tidak penting
untuk aktivitas analgesik.
·
Penghilangan cincin B,C, dan D akan
menghasilkan senyawa 4-phenylpiperidine yang memiliki aktivitas analgesik. Hal
ini menunjukkan bahwa cincn B,C dan D tidak penting untuk aktivitas analgesik.
·
Penghilangan cincin B,C,D dan E akan
menghasilkan senyawa analgesik yaitu methadone.
·
Eterifikasi dan esterifikasi gugus
hidroksil fenol akan menurunkan aktivitas analgesik, meningkatkan aktivitas
antibatuk dan meningkatkan efek kejang.
·
Eterifikasi, esterifikasi, oksidasi atau
pergantian gugus hidroksil alkohol dengan halogen atau hidrogen dapat
meningkatkan aktivitas analgesik, meningkatkan efek stimulan, tetapi juga
meningkatkan toksisitas.
·
Perubahan gugus hidroksil alkohol dari
posisi 6 ke posisi 8 menurunkan aktivitas analgesik secara drastis.
·
Pengubahan konfigurasi hidroksil pada C6
dapat meningkatkan efek analgesik.
·
Hidrogenasi ikatan rangkap C7-C8 dapat
menghasilkan efek yang sama atau lebih tinggi dibanding morfin.
·
Pembukaan cincin piperidin menyebabkan
penurunan aktivitas.
·
Demetillasi pada C17 dan perpanjangan
rantai alifatik yang terikat pada atom N dapat menurunkan aktivitas. Adanya
gugus alil pada atom N menyebabkan senyawa bersifat antagonis kompetitif Ukuran
dari substituen N akan mempengaruhi potensi dan sifat agonis atau antagonis.
Secara umum, substitusi N-metil akan menghasilkan senyawa dengan sifat agonis
yang baik. Peningkatan ukuran substituen N dengan 3 atau 5 karbon akan
menghasilkan senyawa yang antagonis dengan beberapa atau semua reseptor opioid
1.
Analgetika
non narkotik
-
Pendahuluan
Analgetika non
narkotik digunakan untuk
mengurangi rasa sakit
yang ringan sampai moderat
sehingga sering disebut analgetika ringan, juga menurunkan suhu badan pada
keadaan panas badan
yang tinggi dan
sebagai antiradang untuk pengobatan rematik.
Analgetika non narkotik
bekerja pada perifer
dan sentral sistem saraf pusat.
Berdasarkan struktur kimianya analgetika non narkotik dibagi menjadi dua
kelompok yaitu analgetik-antipiretik dan obat antiradang bukan steroid (Non Steroid
antiinflamatory Drugs = NSAID) (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
-
Mekanisme Kerja
a. Analgesik
Analgetika non
narkotik menimbulkan efek analgesik
dengan cara menghambat secara langsung
dan selektif enzim-enzim
pada system saraf pusat
yang mengkatalis biosintesis
prostaglandin, seperti siklooksigenase, sehingga mencegah
sensitisasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti
baradikinin, histamin, serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion- ion
hidrogen dan kalium, yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau
kimiawi (Siswandono dan Soekardjo, 2008).
b. Antipiretik
Analgetika non
narkotik menimbulkan kerja antipiretik dengan meningkatkan eliminasi panas,
pada penderita dengan
suhu badan tinggi,
dengan cara menimbulkan dilatasi
buluh darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah
dan pengeluaran keringat
(Siswandono dan Soekardjo, 2008).
c. Antiradang
Analgetika non
narkotik menimbulkan efek antiradang dengan menghambat biosintesis dan
pengeluaran prostaglandin dengan
cara memblok secara terpulihkan enzim siklooksigenase
sehingga menurunkan gejala keradangan. Mekanisme lain
adalah menghambat enzim-enzim
yang terlibat pada biosintesis mukopolisakarida dan
glikoprotein, meningkatkan pergantian jaringa kolagen
dengan memperbaiki jaringan
penghubung dan mencegah pengeluaran enzim-enzim lisosom
melalui stabilisasi membran yang terkena radang (Siswandono dan Soekardjo,
2008).
DAFTAR PUSTAKA
Tjay, T.H dan K. Rahardja. 2002. Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan dan
Efek-Efek Sampingnya, PT.
Gramedia, Jakarta.
Siswandono dan B. Soekardjo. 2008. Kimia Medisinal, Airlangga University
Press,
Surabaya.
Permasalahan :
1. Paracetamol dan Ibu Profen sama-sama memiliki khasiat sebagai penghilang rasa nyeri (analgetik) dan penurun demam, lalu kapan kita harus mengkonsumsi paracetamol ataupun ibu profen ? dan Bagaimana perbedaan mekanisme kerja dari obat itu ?
2. Obat analgetik memiliki khasiat dapat menghilangkan rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran, sama seperti halnya anestesi lokal dapat menghilangkan rasa sakit dan tidak menghilangkan kesadaran, lalu bagaimanakah perbedaan dari mekanisme kerja obat tersebut ?
3. Mengapa penggunaan obat analgetik narkotik dibatasi ?
4. Bagaimana efek samping jika kita mengkonsumsi obat analgetik narkotik dikombinasikan dengan analgetik non-narkotik ? aman atau tidak ?
5. Jika kita mengkonsumsi obat analgetik non narkotik jangka panjang, apakah aman untuk ginjal kita ? lalu jika itu dikonsumsi oleh ibu hamil, bagaimana efek sampingnya ?











Haii milaa.. Saya mencoba jawab nomor 3 tentang penggunaan analgetik gol. Narkotika.. Kenapa dibatasi, Krna menurut saya, jika digunakan dlm jaangka wktu yg lama akan menyebabkan kan efek candu dan juga menyebabkan gangguan mental pada pasien yang mengkonsumsinyaa.. Dan it merupakan hal yang fatal jika dibiarkan..
BalasHapusTerimakasih ega, apa yang telah ega paparkan itu benar, sedikit menambahkan bahwa tidak semua narkotika dapat digunakan dalam pengobatan, narkotika yang digunakan hanyalah golongan dua dan tiga. hal ini didasari oleh keamanan dan efektivitas masing-masing zat. narkotika yang digunakan sebagai analgetik, karena sifatnya yang berkaitan dengan reseptor opioid yang ada ditubuh. ada beberapa kondisi medis yang mengharuskan penggunaan analalgetik golongan narkotika seperti nyeri akibat kanker, nyeri pasca operasi. namun harus hati-hati dalam penggunaanya dimana efek sampingnya yaitu seseorang menjadi apnea atau tidak bernapas, kontraksi usus dll.
Hapushai kak mila, saya akan menjawab petanyaan no 1 : Kapan kita harus mengkonsumsi PCT ataupun ibu profen jika dalam keadaan demam, menurut saya dalam memilih obatnya, harus disesuaikan dengan penyebab demamnya terlebih dahulu, disesuaikan dg kebutuhan. Apabila demam dikarenakan nyeri sakit kepala, sakit gigi, maka lebih baik mengkonsumsi paracetamol, karena efek sampingnya lebih minim, dimana kandungannya dominan zat antipiretik sedangkan ibu profen memiliki khasiat antiinflamasi atau untuk peradangan, karena kandungan yang dominan analgesik, jadi jika penyebab demam disertai peradangan maka lebih baik mengkonsumsi ibu profen.
BalasHapus
BalasHapusBaik terimakasih nada berarti dapat disimpulkan bahwa dalam memilih obat penurun panas, harus disesuaikan apa pnyebab demam tersebut, sedikit tambahan dari saya, setelah saya baca dari literatur yang saya dapatkan, bahwasanya paracetamol bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin dengan cara menghambat enzim cyclooksigenase (COX) , dg dihambatnya, maka thermostat hipotalamus(pengatur suhu tubuh) dpt kembali normal sehingga dpt menurunkan demam dan mengurangi rasa nyeri, sama halnya seperti ibu profen, memiliki mekanisme kerja yang sama namun tambahannya ibu profen dapat mengatasi antiinflamasi.
Sedikit tambahan, juga lihat aspek efek samping obatnya, jika pasien memiliki riwayat gangguan pencernaan spt tukak lambung, disarankan mengkonsumsi pct, karena ibu profen dapat melukai lambung, serta ibu profen tidak cocok untuk pasien yg memiliki riwayat penyakit jantung, stroke dan asma.
HapusTambahan lagi, berdasarkan literatur yang saya baca, dilihat dari efek samping obatnya, apabila pasien memiliki riwayat gangguan pencernaan, seperti tukak lambung, disarankan mengkonsumsi paracetamol. karena ibu profen beresiko menyebabkan luka pada lambung serta tidak cocok untuk pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung, stroke ataupun asma.
HapusSaya akan menjawab pertanyaan nomor 2
BalasHapusAnestesi lokal dilakukan dengan memblokir sensasi atau rasa sakit pada area tubuh yang akan dioperasi. Jenis anestesi ini tidak memengaruhi kesadaran, sehingga pasien akan tetap sadar selama menjalani operasi atau prosedur medis. Anestesi lokal dapat digunakan untuk operasi minor atau kecil, seperti perawatan gigi, operasi mata, prosedur pengangkatan tahi lalat, dan biopsi pada kulit. Sedangkan analgetik hanya menghilangkan rasa nyeri tetapi kerjanya tidak spesifik.
terimakasih cindy, berarti dapat disimpulkan bahwa yang membedakannya yaitu dari cara kerjanya serta dalam penggunaanya, biasanya anestesi lokal untuk keadaan yang lebih berat seperti yang telah saudari cindy paparkan, sedangkan analgetik hanya dapat menghilangkan rasa nyeri namun kerjanya tidak spesifik, lalu bagaimana jika yang digunakan itu analgetik golongan narkotik, apakah kerjanya tidak spesifik juga ?
Hapusberbeda halnya jika analgetik golongan narkotika, dimana obat ini memiliki daya analgesik yang kuat sekali dengan titik kerja di susunan saraf pusat, dimana analgetik ini umumnya mengurangi kesadaran dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia), ketergantungan fisik serta gejala-gejala lainnya, dimana obat ini dalam menghilangkan rasa nyeri dengan mengikat reseptor opioid pada sistem saraf.
Hapusbaik terimakasih cindy :)
HapusAssalamualaikum mila,saya coba menjawab permasalahan no.4,menurut saya jika dalam mengkonsumsi obat analgesik golongan narkotik dikombinasikan dengan analgetik non-narkotik, dapat membahayakan bagi tubuh, dikarenakan dalam pembelian analgetik narkotik tidak bisa sembarangan harus sesuai dengan resep dokter, dan apabila dalam mengkombinasikan antara kedua macam obat tersebut, ditakutkan adanya interaksi dari masing-masing obat yang tidak diinginkan oleh tubuh, seperti dikhawatirkan meningkatkan resiko terjadinya masalah ginjal, sebaiknya disesuaikan dengan resep dokter.
BalasHapusterimakasih imah, berarti dalam mengkombinasikan obat harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, seperti adakah riwayat penyakit seperti tukak lambung, hipertensi, gagal jantung, adakah alergi pada obat atau zat tertentu.
HapusHai mila, saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 5, menurut saya jika penggunaan obat analgetik non narkotik dalam jangka yang panjang, itu kembali lagi ke koondisi tubuh pasien, karena sistem imun orang berbeda-beda, jika sistem imunnya baik maka jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan dosis yang rendah hingga dalam mengkonsumsinya teratur tidak ada efek samping yang membahayakan tubuh, namun jika tidak ada keluhan lebih baik dihentikan . dan apabila kondisi imun pasien tidak bagus, dan dikonsumsi dalam jangka panjang seperti paracetamol dan dengan dosis yang tinggi maka ditakutkan dapat menyebabkan sirosis hati dan berbagai penyakit lainnya. dan jika dikonsumsi oleh ibu hamil, selagi dosisnya rendah, sesuai dengan aturan tidak overdosis, menurut saya tidak membahayakan bagi ibu hamil dan calon bayinya terkecuali ada riwayat alergi, namun sebaiknya untuk ibu hamil tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi jangka panjang, ditakutkan mempengaruhi kondisi fisik bayi. apabila demam telah turun ataupun nyeri nya sudah turun, maka dianjurnakn untuk tidak mengkonsumsinya lagi
BalasHapusterimakasih monik, lalu jika dikonsumsi oleh ibu hamil jangka panjang, bagaimana efek kepada bayinya tersebut ?
Hapusmenurut saya, dikhawatirkan dapat berdampak buruk pada janin selain itu juga beresiko menimbulkan kecacatan pada bayi. obat yang digunakan jangka panjang dapat berdampak pada sistem saraf pusat janin yang sedang berkembang. salah satu dampak yang penting adalah efek teratogenik yang menimbulkan kecacatan. sekalipun ada beberapa obat yang aman dikonsumsi bagi ibu hamil, jika bisa tanpa obat sebaiknya pilih untuk tidak meminum obat. untuk menjaga kondisi ibu hamil, lakukan istirahat dengan cukup, minum air putih yang banyak serta konsumsi buah dan sayuran.
Hapusassalamua'laikum mila, mencoba menjawab no. 1 nih Ibuprofen termasuk dalam golongan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Sama seperti paracetamol, obat ini juga digunakan untuk meredakan nyeri dan demam. Bedanya, ibuprofen juga bermanfaat untuk mengatasi peradangan. Obat ini dapat menghambat produksi zat pemicu peradangan di dalam tubuh. Untuk mekanisme kerjanya obat tersebut mengikat reseptor prostaglandin sintetase COX-1 dan COX-2 sehinggamenghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin berperan sebagai mediator utama peradangan,oleh karena dihambat maka nyeri akan berkurang atau hilang.
BalasHapusterimakasih kak nu, berarti yang membedakan dari mekanismenya dimana ibu profen memiliki aktivitas antiinflamasi sedangkan paracetamol hanya memiliki aktivitas sebagai analgetik dan antipiretik
HapusHaii milaa.. Saya mencoba jawab nomor 3
BalasHapusKrna menurut saya, obat analgetik narkotika jika digunakan pada wktu yg lama akan menyebabkan efek candu dan juga menyebabkan gangguan mental pada pasien yang mengkonsumsinyaa
Terimakasih ashima, jadi dapat disimpulkan bahwa jika analgetik narkotik ini digunakan jangka lama efek sampingnya ketergantungan.
HapusTerimakasih mila, blog nya bermanfaat
BalasHapusProses terjadinya nyeri atau biasa disebut reaksi inflamasi. Setiap orang sudah pasti pernah merasakan reaksi nyeri, baik itu rangsangan nyeri akibat adanya benturan benda tumpul maupun sayatan benda tajam. Namun tahukah anda bagaimana proses terjadinya nyeri didalam tubuh serta apa efek yang timbul akibat nyeri tersebut? Pada kesempatan ini Apotekeranda.com akan mengupas secara rinci tentang mekanisme kerja inflamasi atau proses terbentuknya nyeri pada luka.
BalasHapus