Langsung ke konten utama

ANTIHISTAMINE


Antihistamin merupakan obat yang sering dipakai dibidang dermatologi, terutama untuk kelainan kronik dan rekuren. Antihistamin adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor histamin. Antihistamin dan histamin berlomba untuk menempati reseptor yang sama.                                              

Ada empat tipe reseptor histamin, yaitu H1, H2, H3, dan H4 yang keempatnya memiliki fungsi dan distribusi yang berbeda. Pada kulit manusia hanya reseptor H1 dan H2 yang berperan utama. Blokade reseptor oleh antagonis H1 menghambat terikatnya histamin pada reseptor sehingga menghambat dampak akibat histamin misalnya kontraksi otot polos, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan vasodilatasi pembuluh darah.
Histamin memiliki peranan yang penting dalam patofisiologi penyakit alergi. Histamin adalah amina dasar yang dibentuk dari histidin oleh histidine dekarboksilase. Histamin ditemukan pada semua jaringan, tetapi memiliki konsentrasi yang tinggi pada jaringan yang berkontak dengan dunia luar, seperti paru-paru, kulit, dan saluran pencernaan. Urtikaria dan rhinitis alergi merupakan dua penyakit alergi yang sering menyebabkan gangguan pola tidur dan mempengaruhi aktivitas sehari-hari.
                                                

Pada kondisi yang berat, kelainan ini dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang, mulai dari gangguan fisik, gangguan emosional, gangguan aktivitas seksual, terbatasnya aktivitas sosial, dan mempengaruhi pekerjaan.
            Antihistamin (antagonis histamin adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblokir reseptor histamin. Histamin merupakan derivat amin dengan berat molekul rendah yang diproduksi dari L-histidine. Istilah antihistamin pertama kali ditujukan pada reseptor antagonis H1 yang digunakan untuk terapi penyakit inflamasi dan alergi. Antagonis reseptor H1 dapat dibagi menjadi generasi pertama dan generasi kedua.
Antihistamin H1 generasi kedua lebih direkomendasikan dalam penanganan urtikaria kronis karena lebih aman pada pemakaian jangka lama. Pada beberapa tahun belakangan dikenal beberapa antihistamin H1 generasi kedua yang baru, yaitu Bilastine dan Rupatadine. Kedua antihistamin baru ini memiliki keunggulan masing-masing dibandingkan antihistamin generasi kedua sebelumnya. Bilastine merupakan antihistamin H1 paling aman terhadap kardiovaskuler, dan Rupatadine selain juga aman terhadap kardiovakuler, juga memilki efek terhadap platelet activating factor.
Bilastine :
Bilastine merupakan antihistamin H1 yang baru dikenal luas dalam terapi rhinokonjungtivitis dan urtikaria pada dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun. Bilastine tidak dimetabolisme di hati, relatif aman, tidak menyebabkan efek kolinergik dan tidak menyebabkan perubahan yang signifikan pada pemeriksaan laboratorium, vital sign, dan gelombang EKG. Penelitian klinis menunjukkan bilastine dengan dosis 20mg/hari sama efektifnya dengan levocetirizin pada urtikaria kronik. Bilastin digunakan di Uni Eropa tahun 2010 dan telah di gunakan di 28 negara di Eropa. Struktur Bilastin tidak berasal dari antihistamin lain, tidak juga metabolit atau enansiomer dari antihistamin lainnya. Struktur kimia dari bilastin hampir sama dengan piperidinyl-benzimidazole
                                              

Sama dengan antihistamin lainnya, Bilastin merupakan antagonis reseptor H1. Bilastin berikatan dengan reseptor H1 dengan afinitas sama dengan astemizol dan diphenhydramin, dan lebih kuat dari cetirizin dan fexofenadin. Pada isolasi organ hewan percobaan (ileum dan trakea) potensi antihistamin invitro lebih kuat dari cetirizin dan fexofenadin. Bilastin bekerja lebih selektif pada reseptor H1, dan sedikit bahkan tidak ada pada reseptor H2, H3, H4, muskarinik, α1-dan β2 adrenergik, bradikinin B1, Leukotrien D4 dan reseptor calcium. Percobaan pada tikus menunjukkan efek Bilastin tergantung dosis, bekerja panjang, dan aktivitasnya lebih kuat dari cetirizin. 

Rupatadin :
            Rupatadin merupakan salah satu antihistamin H1 non sedatif yang modern, dimana juga mempunyai efek tambahan berupa antagonis platelet activating factor (PAF). Secara komersial Rupatadin tersedia dalam bentuk sediaan tablet 10 mg di Spanyol dan beberapa negara eropa lainnya. Di Jerman Rupatadin digunakan untuk terapi rinitis dan urtikaria kronik pada dewasa dan anak-anak lebih dari 12 tahun dengan nama dagang Rupafin sejak 1 Agustus 2008 dan Urtimed sejak tahun 2010. Struktur kimia Rupatadin adalah Rupatadine (8-chloro-11-[1-[5-methyl-3-pyridinyl)methyl]piperidin-4-ylidene]-6,11-dihydro-5H benzo[5,6]cycloheptal 1,2-b]pyridine fumarate). Rupatadin berikatan lebih selektif dengan reseptor H1 di jaringan paru dibandingkan di jaringan otak (serebelum) setelah pemberian oral 0,16 mg/kg pada hewan percobaan. Penelitian menggunakan enzim mikrosom hati manusia menunjukkan bahwa sitokrom P450 CYP3A4 merupakan isoenzim utama yang bertanggung jawab dalam biotransformasi Rupatadin.



Gambar 3. Struktur Kimia Rupatadin

Konsentrasi maksimum plasma Rupatadin 2,3ng/ml pada dewasa dicapai setelah 45 menit sampai dengan 1 jam secara oral. Waktu paruh Rupatadin 5,9 jam setelah mengalami metabolisme presistemik ketika dikonsumsi secara oral. Jalur biotransformasi yang paling penting dari Rupatadin adalah proses oksidatif, oksidasi dari grup pyridine-methyl menjadi asam karboksilik, N-dealkylation dari piperidine nitrogen dan hidroksilasi dari posisi 3-,5- dan 6- dari sistem ring trisiklik. Rupatadin ditemukan dalam urin dan feses dalam jumlah yang sedikit.
Rupatadin juga memiliki aktivitas antagonis platelet activating factor. Platelet activating factor adalah salah satu fosfolipid endogen yang memediasi inflamasi dan dibentuk oleh sel inflamasi seperti makrofag alveolar, eosinofil, sel mast, basofil, platelet dan netrofil yang dikeluarkan sebagai respon terhadap reaksi alergi/inflamasi. Reaksi ini berhubungan dengan peningkatan permeabilitas vaskular, kemoatraksi eosinofil, bronkokonstriksi, hiperresponsif jalur nafas, dimana semua ini terlibat dalam patofisiologi rinitis, asma dan anafilaksis.

Histamin sudah lama dikenal karena merupakan mediator utama timbulnya peradangan dan gejala alergi. Mekanisme kerja obat antihistamin dalam menghilangkan gejala-gejala alergi berlangsung melalui kompetisi dengan menghambat histamin berikatan dengan reseptor H1 atau H2 diorgan sasaran. Histamin yang kadarnya tinggi akan memunculkan lebih banyak reseptor H1. Reseptor yang baru tersebut akan diisi oleh antihistamin. Peristiwa molekular ini akan mencegah untuk sementara timbulnya reaksi alergi. Reseptor H1 diketahui terdapat di otak, retina,medula adrenal, hati, sel endotel, pembuluh darah otak, limfosit, otot polos saluran nafas, saluran cerna, saluran genitourinarius dan jaringan vaskular. Reseptor H2 terdapat di saluran cerna dan dalam jantung. Sedangkan reseptor H3 terdapat di korteks serebri dan otot polos bronkus. Di kulit jugaterdapat reseptor H3 yang merupakan autoreseptor,mengatur pelepasan dan sintesis histamin. Namun,peranan dalam menimbulkan gatal dan inflamasi masih belum jelas.

Antihistamin generasi pertama
Sejak tahun 1937-1972, ditemukan beratus-ratus antihistamin dan digunakan dalam terapi,namun khasiatnya tidak banyak berbeda. Antihistamin 1 ini dalam dosis terapi efektif untuk  menghilangkan bersin, rinore, gatal pada mata, hidung dan tenggorokan pada seasonal hay fever, tetapi tidak dapat melawan efek hipersekresi asam lambung akibat histamin. AH1 efektif untuk mengatasi urtikaria akut, sedangkan pada urtikaria kronik hasilnya kurang baik. Mekanisme kerja antihistamin dalam menghilangkan gejala-gejala alergi berlangsung melalui kompetisi dalam berikatan dengan reseptor H1 di organ sasaran. Histamin yang kadarnya tinggi akan memunculkan lebih banyak reseptor H1. Antihistamin tersebut digolongkan dalam antihistamin generasi pertama.

Antihistamin generasi pertama ini mudah didapat, baik sebagai obat tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan obat dekongestan, misalnya untuk pengobatan influensa. Kelas ini mencakup klorfeniramine, difenhidramine, prometazin, hidroksisin dan lain-lain. Pada umumnya obat antihistamin generasi pertama ini mempunyai efektifitas yang serupa bila digunakan menurut dosis yang dianjurkan dan dapat dibedakan satu sama lain menurut gambaran efek sampingnya. 

Antihistamin generasi kedua
Setelah tahun 1972, ditemukan kelompok antihistamin baru yang dapat menghambat sekresiasam lambung akibat histamin yaitu burinamid,metilamid dan simetidin. Ternyata antihistamin generasi kedua ini memberi harapan untuk pengobatan ulkus peptikum, gastritis atauduodenitis. Obat ini ditoleransi sangat baik,dapat diberikan dengan dosis yang tinggi untuk meringankan gejala alergi sepanjang hari, terutama untuk penderita alergi yang tergantung pada musim. Obat ini juga dapat dipakai untuk pengobatan jangka panjang pada penyakit kronis seperti urtikaria dan asma bronkial. Peranan histamin pada asma masih belum sepenuhnya diketahui. Pada dosis yang dapat mencegah bronko konstriksi karena histamin, antihistamin dapat meredakan gejala ringan asma kronik dan gejala-gejala akibat menghirup alergen pada penderita dengan hiperreaktif bronkus. Namun, pada umumnya mempunyai efek terbatas dan terutama untuk reaksi cepat dibanding dengan reaksi lambat, sehingga antihistamin generasi kedua diragukan untuk terapi asma kronik. Antihistamin generasi kedua mempunyai efektifitas antialergi seperti generasi pertama.


PERMASALAHAN :
1. Bagaimana efek samping dari antihistamin generasi pertama dan generasi kedua jika memiliki efektivitas yang sama yaitu antialergi ?
2. Mengapa pemberian Bilastin bersamaan dengan jus anggur mengurangi efek sistemik Bilastin secara signifikan ?
3. Bagaimana mekanisme kerja dari obat antihistamin dapat mengobati alergi ?



DAFTAR PUSTAKA :
Fesdia, S dan S. S. Yenny. 2018. Antihistamin Terbaru di Bidang Dermatologi. Jurnal Kesehatan 
               Andalas. 7(4) :62-65.
Guyton, A.C dan J.E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.
Neal, M.J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis, Erlangga, Jakarta.
































Komentar

  1. hai mila, wahh sangat bermanfaat sekali infonya. disini saya akan mencoba membantu menjawab permasalahan no. 3 yaitu bagaimana mekanisme kerja antihistamin dalam mengatasi reaksi alergi. jawabannya adalah Histamin dapat meniwahhkan efek bika berinteraksi dengan reseptor histaminergik, yaitu reseptor H1, H2, dan H3. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan interaksi oto polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vaskular dan meningkatkan sekresi usus, yang dihubungkan dengan peningkatan cGMP dalam sel. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga permeable terhadap cairan dan plasma protein yang menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini di blok oleh antagonis-1. Interaksi histamin dengan reseptor H2 dapat meningkatkan sekresi asam lambung dan kecepatan kerja jantung. Produksi asam lambung di sebabkan penurunan cGMP dalam sel dan peningkatan cAMP. Peningkatan sekresi asam lambung dapat menyebabkan tukak lambung. Efek ini di blok oleh antagonis H2. Reseptor H3 adalah resptor histamin yabg baru di ketemukan pada tahun 1987 oleh arrange dan kawan-kawan, terletak pada ujung syaraf aringan otak dan jaringan perifer yang mengontrol sintesis dan pelepasan histamin, mediator alergi lain dan peradangan. Efek ini di blok antagonis H3.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih imah, sangat bermanfaat dan membantu.

      Hapus
  2. Hai rahmila terimakasih atas informasi yang telah diberikan sangat bermanfaat.. saya akan membantu untuk menjawab permasahalan no 1 Pada antihistamin generasi pertama menimbulkan efek yang tidak diinginkan yaitu menimbulkan rasa mengantuk. Efek sedatif ini diakibatkan oleh karena antihistamin generasi pertama ini memiliki sifat lipofilik yang dapat menembus sawar darah otak sehingga dapat menempel pada reseptor H1 di sel-sel otak. Dengan tiadanya histamin yang menempel di reseptor H1 sel otak, kewaspasaan menurun sehingga timbul rasa mengantuk. Sebaliknya antihistamin generasi kedua sulit menembus sawar darah otak sehingga reseptor H1 sel otak tetap diisi histamin sehingga efek sedatif tidak terjadi. Oleh karena itulah antihistamin generasi kedua disebur juga antihistamin non-sedatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih cindy, brrti dapat disimpulkan bahwasanya generasi pertamalah yang memberikan efek mengantuk sedangkan generasi kedua tidak

      Hapus
  3. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no. 2 Efek samping generasi pertama memiliki efek sedatif sedangkan generasi kedua non sedatif

    BalasHapus
  4. hai Rahmila, saya juga akan menjawab pertanyaan nomor 3
    1.H1-blockers (antihistaminika klasik)
    Mengantagonir histamin dengan jalan memblok reseptor-H1 di otot licin dari dinding pembuluh,bronchi dan saluran cerna,kandung kemih dan rahim. Begitu pula melawan efek histamine di kapiler dan ujung saraf (gatal, flare reaction). Efeknya adalah simtomatis, antihistmin tidak dapat menghindarkan timbulnya reaksi alergi
    2.H2-blockers (Penghambat asma)
    obat-obat ini menghambat secara efektif sekresi asam lambung yang meningkat akibat histamine, dengan jalan persaingan terhadap reseptor-H2 di lambung. Efeknya adalah berkurangnya hipersekresi asam klorida, juga mengurangi vasodilatasi dan tekanan darah menurun. Senyawa ini banyak digunakan pada terapi tukak lambug usus guna mengurangi sekresi HCl dan pepsin, juga sebagai zat pelindung tambahan pada terapi dengan kortikosteroida. Lagi pula sering kali bersama suatu zat stimulator motilitas lambung (cisaprida) pada penderita reflux.
    Penghambat asam yang dewasa ini banyak digunakan adalah simetidin, ranitidine,
    famotidin, nizatidin dan roksatidin yang merupakan senyawa-senyawa heterosiklis dari histamin.

    BalasHapus
  5. Saya akan membantu menjawab permasalahan no. 3
    Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi reseptor H1, H2 dan H3.
    Antagonis-H1 terutama digunakan untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi.
    Menurut Siswandono (2016), Antagonis-H1 sering pula disebut antihistamin klasik atau antihistamin-H1, adalah senyawa yang dalam kadar rendah dapat menghambat secara bersaing kerja histamin pada jaringan yang mengandung reseptor H1. Di klinik digunakan untuk mengurangi gejala alergi karena musim atau cuaca, misalnya radang selaput lendir hidung, bersin, gatal pada mata, hidung dan tenggorokan, dan gejala alergi pada kulit seperti pruritik, urtikaria, dan dermatitis.

    BalasHapus
  6. Hi Rahmila, saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2 Pemberian bilastin bersamaan dengan jus anggur mengurangi efek sistemik bilastin secara signifikan. Interaksi ini kemungkinan disebabkan oleh efek flavonoidpada sistem transpor di usus sebagai P-gp dan peptida transpor anion anorganik. Pemberian Bilastin bersamaan dengan ketokonazol (dikenal inhibitor sitokrom P450-3A4 dan inhibitor P-gp ) untuk beberapa hari, kadar sistemik bilastin meningkat 2 kali lipat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya saya sependapat dengan nada, untuk diminum bersama obat, buah anggur dan produk yang mengandung anggur contohnya produk alkohol kurang disarankan karena bisa meningkatkan kadar obat didalam tubuh yang secara langsung meningkatkan efek samping dari obat tersebut. Bahaya lainnya adalah apabila buah anggur dikonsumsi secara berlebihan dapat memicu keracunan karena bertahan lebih lama di dalam tubuh.
      Salah satu efek samping buah anggur saat diminum bersama obat adalah menghambat metabolisme sehingga meningkatkan kadar obat. Efek ini terjadi pada beberapa jenis obat, terutama golongan psikotropika seperti diazepam dan alprazolam.

      Hapus
    2. Baik terimakasih nada dan audrey brrti dapat disimpulkan jika dikonsumsi obat ini bersamaan dengan jus anggur tentu efektivitasnya akan dua kali lipat dri biasanya

      Hapus
  7. Malam mila contoh obat antihistamine minimal 5 ?Terina kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, jadi untuk contoh obatnya, ada beberapa mulai dari contoh generasi pertama smpai generasi kedua. Generasi pertama :Diphenhydramine, Chlorpheniramine
      Clemastine
      Promethazine
      Generasi kedua :
      Cetirizine
      Loratadine
      Fexofenadine

      Hapus
  8. Hai Rahmila, saya mencoba menjawab nih. no.1 Antihistamin no 1
    Generasi pertama :
    Jenis ini memiliki efek menenangkan. Ketika diminum, ada efek samping umum yang bisa Anda rasakan seperti mengantuk, pusing, konstipasi, mulut kering, gangguan dalam berpikir, penglihatan buram, dan sulit mengosongkan kandung kemih. Jenis-jenis antihistamin generasi pertama antara lain clemastine, alimemazine,chlorphenamine, cyproheptadine,hydroxyzine, ketotifen danpromethazine.Generasi kedua
    Jenis ini tidak memiliki efek penenang. Ketika diminum, efek mengantuk tidak akan sebesar obat generasi pertama. Meski begitu, Anda tetap harus berhati-hati ketika mengemudi atau mengoperasikan alat berat, karena efek mengantuk masih mungkin bisa terjadi. Antihistamin generasi kedua memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang generasi pertama, misalnya mulut kering, sakit kepala, hidung kering, dan mual. Jenis-jenis antihistamin generasi kedua antara lain fexofenadine,levocetirizine, loratadine, mizolastineacrivastine, cetirizine, dan desloratadine.

    Lantas, jenis antihistamin mana yang terbaik? Semua jenis antihistamin dapat mengatasi reaksi alergi dengan baik asal sesuai dengan keluhan yang Anda alami. Sebagai contoh, jika Anda mengalami alergi gatal-gatal pada kulit, Anda bisa mengonsumsi antihistamin generasi pertama. Efek mengantuk dari obat antihistamin generasi ini bisa membantu Anda tidur pulas walau kondisi kulit sedang gatal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik terimakasih kak nu, brrti dapat disimpulkan dalam mengkonsumsi obat ini disesuaikan dengan kebutuhan dan keluhan kita

      Hapus
  9. Hai Rahmila, setelah sayaa baca blognya, disini saya tidak mengerti terkait obat-obatan. sebelumnya saya ingin bertanya, jika seandainya ada orang yang sedang flu, dia mengkonsumsi obat flu, tetapi juga mengkonsumsi obat antialergi secara bersamaan, bagaimana tanggapan anda terkait itu, dan bagaimana solusi yang baik menurut anda? Saya pernah melihat teman saya seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut sayaa mengkonsumsi obat flu dan alergi secara bersamaan tergantung obat alergi yang dikonsumsi, ada yang aman dan ada yang tidak, dan kembali lagi ke keadaan fisik seseorang, misalnya pengecualian ibu hamil, manula, menderita penyakit kronis spt jantung atau paru*. Menurut informasi yang pernah saya dapat, bahwasanya flu biasanya disebabkan oleh virus influenza yang dapat ditularkan melalui udara, atau secara tidak langsung oleh benda yang terkontaminasi virus, untuk mengatasi flu dapat digunakan obat bebas yang ada dipasaran, jika timbul demam, dapat mengkonsumsi pereda demam spt patacetamol atau ibu profen, dan biasanya dalam obat flu udah ada kandungan atau zat pereda demamnya. dan ini aman jika dikonsumsi bersamaan dengan obat antialergi atau antihistamin spt loratadine, cetrizine dll. Atau menurut sayaa, jika flu nya tidak terlalu parah, cukup konsumsi obat yang sekaligus dapat mengatasi keluhan anda, artinya anda dapat mengkonsumsi obat flu, dimana dalam obat itu telah ada kandungan antihistaminnya dan pereda demam

      Hapus
  10. Terimakasih atasbartikelnya, sangat bermanfaat sekali🙏

    BalasHapus
  11. terima kasih, saya akan jawab pertanyaan nomor 3, bahwa anti histamin bekerja dengan menghambat COX 2 sehingga tidak terjadi peradangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih roza, brrti dapat disimpulkan dengan dihambatnya enzim siklooksigenase sehingga pembentukan dari prostaglandin pun terhambat,

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANTIKONVULSI

Antikonvulsan (antikejang) digunakan untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi (epileptic seuzure) dan bangkitan non-epilepsi. Epilepsi didefinisikan sebagai serangan paroksismal berulang dengan interval lebih dari 24 jam tanpa penyebab yang pasti. Serangan paroksismal tersebut dapat bermanifestasi sebagai positif eksitasi (motorik, sensorik, psikis) atau bermanifestasi negatif (hilangnya kesadaran, tonus otot, atau kemampuan bicara) atau gabungan dari keduanya. International League Against Epilepsy (ILAE) dan International Bureau for Epilepsy (IBE) pada tahun 2005 merumuskan kembali definisi epilepsi yaitu suatu kelainan otak yang ditandai oleh adanya faktor predisposisi yang dapat mencetuskan bangkitan epileptik, perubahan neurobiologis, kognitif, psikologis dan adanya konsekuensi sosial yang diakibatkannya. Kejang adalah suatu gejala akibat lepasnya muatan listrik yang berlebihan dari sebuah fokus kejang atau dari jaringan normal yang terganggu akibat suatu keadaan pa...

ANALGETIK

Analgetika adalah zat yang bisa mengurangi rasa nyeri tanpa mengurangi kesadaran (Tjay dan Rahardja, 2015). Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang mengganggu, berhubungan dengan ancaman, timbulnya gangguan atau kerusakan jaringan. Keadaan psikologis seseorang sangat berpengaruh, misalnya emosi dapat menimbulkan nyeri/sakit kepala atau membuatya semakin parah. Ambang batas nyeri yang dapat ditoleransi seseorang berbeda – beda karena nyeri merupakan suatu perasaan subyektif (Sherwood, 2012). Rasa nyeri berfungsi sebagai pertanda tentang adanya suatu gejala atau gangguan di tubuh, seperti peradangan infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri dapat disebabkan oleh rangsang mekanis, kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat merusak jaringan dan melepaskan zat mediator nyeri. Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya di ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Rangsangan akan di dialirkan melalui syaraf sensoris ke Susunan Syaraf Pusat (S.S.P), melewa...