Langsung ke konten utama

HEMATOLOGI


Hematologi  ialah  cabang  ilmu  kedokteran  yang  mempelajari  darah, organ pembentuk darah dan jaringan limforetikuler serta kelainan-kelainan yang timbul   darinya.   Hematologi   mempelajari   baik   keadaan   fisiologik   maupun patologik  organ-organ  sehingga  hematologi  meliputi  bidang  ilmu  kedokteran dasar   maupun  bidang  kedokteran  klinik.
Pada umumnya, darah terdiri dari dua komponen utama, yaitu: (1) 55% adalah sel plasma, cairan matriks ekstraselular yang mengandung zat-zat terlarut, dan (2) 45% adalah unsur yang diedarkan yang terdiri dari sel dan fragmenfragmen sel. Pada umumnya, sekitar 99% dari unsur yang diedarkan merupakan sel darah merah (eritrosit), kurang dari 1% adalah sel darah putih (leukosit) dan platelet. (Tortora, 2009).
Darah   merupakan   komponen   esensial   makhluk   hidup,   mulai   dari binatang primitif sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai: pembawa oksigen,   mekanisme   pertahanan   tubuh   terhadap   infeksi   dan   mekanisme hemostasis (Bakta, 2007).

Darah merupakan komponen penting dalam penilaian kondisi fisiologis tubuh . Darah terdiri dari plasma dan sel darah. Sel darah meliputi eritrosit, leukosit, dan trombosit. Komponen darah tersebut dapat diamati setelah dilakukan sentrifugasi sehingga membentuk beberapa lapisan (Gambar 1). Plasma darah merupakan carian penyusun darah yang mengandung sejumlah protein yang berperan sangat penting untuk menghasilkan osmotik plasma. Darah berfungsi untuk mengedarkan substansi yang masuk ke dalam tubuh maupun yang dihasilkan tubuh dari proses-proses metabolisme, sebagai pertahanan terhadap antigen, dan mengatur stabilitas suhu tubuh (Sumardjo, 2008).
Gambar 1. Sampel darah setelah disentrifugasi (Sumber: Isnaeni, 2006).
Keterangan: Volume darah yang ditempati eritrosit disebut hematokrit.

Terdeteksinya  hingga  tingkat  keparahan  dari  suatu  penyakit  dapat diketahui dari pemeriksaan darah (hematologis) (Bastiawan dkk., 2001). Profil darah merupakan gambaran kondisi fisiologis tubuh yang berkaitan dengan kesehatan, sehingga kondisi profil darah yang baik akan mendukung proses fisiologis tubuh yang lebih baik. Kondisi profil darah yang baik dapat ditandai dengan komponen darah yang berada dalam kisaran normal (Ali dkk., 2013).
Terdapat dua komponen dalam profil darah yaitu profil hematologi dan profil kimia darah. Hematologi lengkap (complete blood count) merupakan dasar  untuk  pengujian  praklinis  dan  klinis  serta  menjadi  persyaratan  dasar dalam  penilaian praklinis  obat-obatan dan  toksisitas  (Harrison  dkk.,  1978). Profil hematologi meliputi profil eritrosit (jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan  persentase  hematokrit),  profil  leukosit  (jumlah  total  leukosit,  jumlah neutrofil,  jumlah limfosit,  dan  mixed  (gabungan  jumlah  monosit,  eosinofil, dan basofil), dan profil trombosit (jumlah trombosit).
Darah  arteri  berwarna  merah  terang,  itu  menandakan  bahwa  darah teroksigenasi dengan baik. Sementara darah vena berwana gelap karena kurang teroksigenasi. Darah mengalir 4-5 kali lebih lamban dibanding air karena darah 4-5  kali  lebih  kental  dari  pada  air.  Berat  jenis  darah  bervariasi  berkisar  anatara 1,054-1,065, suhu darah adalah 38o celcius dan pHnya adalah 7,38. Volume darah dalam   tubuh   berkisar   8%   dari   berat   badan,   rata-rata   mendekati   5-6   liter (Syaifuddin, 2011).
  •         Plasma Darah

Plasma  darah  termasuk  dalam  kesatuan  cairan  ekstra  seluler,  dengan volumenya kira-kira 5%  dari berat badan. Susunan plasma terdiri dari 91,0% air, 8,0%  protein  (albumin,  globulin,  protombin  dan  fibrinogen),  mineral  0,9% (kalsium,  fosfor,  magnesium,  besi  dan  lainnya)  dan  0,1%  diisi  oleh  sejumlah bahan organik seperti glukosa, lemak, urea, asam urat, kreatinin, kolestrol dan asam  amino.  Plasma  darah  juga  berisi  hormon-hormon,  enzim  dan  antibodi (Pearce, 2009).
Protein dalam plasma darah terditi atas :
a.       Antihemofilik, berguna mencegah anemia.
b.      Tromboplastin, berguna dalam proses pembekuan darah.
c.       Protombin, mempunyai peranan penting dalam pembekuan darah.
d.      Fibrinogen, mempunyai peranan penting dalam pembekuan darah.
e.       Fibrinogen, mempunyai peranan penting dalam pembekuan darah.
f.       Albumin, berguna dalam pemeliharaan tekanan osmosis darah.
g.      Gammaglobulin,   berguna   dalam   senyawa   antibodi   yaitu   mengangkut metabolisme dari jaringan ke alat-alat pengeluaran, mengangkut energi panas dari  tempat  aktif  ketempat  yang  tidak  aktif  untuk  menjaga  suhu  tubuh, mengedarkan  air,  hormon  dan  enzim  ke  seluruh  tubuh,  melawan  infeksi dengan antibodi dan leukosit (Irianto, 2013).

Korpuskili (sel darah) :
Korpuskili adalah butiran-butiran darah yang di dalamnya terdiri atas:
a.       Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%)
b.      Sel darah putih atau leokosit (0,2%)
c.       Keping-keping darah atau trombosit (0,6-1,0%)

·         Eritrosit
Eritrosit atau Sel darah merah adalah sel yang memiliki fungsi khusus mengangkut  oksigen  ke  jaringan-jaringan  tubuh  dan  membantu  pembuangan karbon dioksida dan  proton  yang  dihasilkan  oleh  metabolisme jaringan  tubuh. Masa  hidup  eritrosit  ialah  120  hari  sejak  dibentuk  di  jaringan  hematopoietik (Kiswari R, 2014).
Gambar Sel Darah Eritrosit
Eritrosit berbentuk bikonkaf, berdiameter 7-8  µ.  Bentuk  bikonkaf  tersebut  menyebabkan eritrosit  bersifat  fleksibel sehingga dapat  melewati lumen pembuluh darah yang sangat kecil dengan lebih baik. Melalui mikroskop, eritrosit tampak bulat, berwarna merah, dan di bagian tengahnya tampak  lebihi pucat, disebut  dengan central pallor yang diameternya kira-kira sepertiga dari keseluruhan diameter eritrosit. Eritrosit  tidak  memiliki  inti  sel,  tetapi  mengandung  beberapa  organel dalam sitoplasmanya. Sebagian besar sitoplasma eritrosit berisi hemoglobin yang mengandung zat besi (Fe) sehingga dapat mengikat oksigen.
Fungsi utama eritrosit adalah melindungi hemoglobin yang terkandung di dalamnya, hemoglobin inilah yang berfungsi sebagai alat transportasi mengangkut oksigen  ke  seluruh  jaringan  dan  sel  tubuh  dengan  tujuan  membantu  proses metabolisme. Nilai normal eritrosit diklasifikasikan menurut umur dan jenis kelamin. Dewasa laki-laki berkisar 4,5 juta – 5,5 juta sel/mm3, dewasa perempuan berkisar antara 3,8 juta – 4,8 juta sel/mm3, anak-anak berumur 1 tahun berkisar 3,9 juta – 5,1  juta  sel/mm3,  anak-anak  berumur  2-12  tahun  berkisar  4,0  juta    5,2  juta sel/mm3, dan bayi yang baru lahir berkisar 5,0 juta – 7,0 juta sel/mm3  (Hubbard, 2013).
Kelainan Eritrosit :
1.      Kelainan jumlah
Kelainan jumlah eritrosit berkaitan dengan kelainan hematologi anemia dan  polisetemia.  Dimana  penentuan  dari  kelainan  ini  ditunjang  oleh  kadar hemoglobin  dan  nilai  hematokrit.  Apabila  terjadi  penurunan  dibawah  normal kadar  hemoglobin,  hitung  eritrosit  dan  hematokrit  maka  keadaan  ini  disebut anemia.  Sebalknya  jika  terjadi  peningkatan  kadar  hemoglobin  diatas  normal, hitung eritrosit dan hematoksit makan keadaan ini disebut polisetemia.
2.      Kelainan morfologi
Kelainan    morfologi        terdiri  dari      variasi  ukuran,distribusi hemoglobin,variasi  bentuk,  badan  inklusi  dan  distribusi  eritrosit.  Informasi diagnostik  dari  kelainan  morfologi  ini  dapat  dilihat  dan  diketahui  melalui pemeriksaan  eritrosit  pada  sediaan  apusan  darah  tepi  yang  diwarnai  dengan pewarnaan wright-giemsa. Macam-macam kelainan morfologi eritrosit:

1.      Kelainan ukuran eritrosit (anisositosis)
Kelainan ukuran eritrosit meliputi makrositik dan mikrositik. Makrositik adalah  kelainan  ukuran  eritrosit  yang  lebih  besar  dari  ukuran  normalnya  (>8 mikron), sedangkan mikrositik adalah kelainan ukuran eritrosit yang lebih kecil dari ukuran normalnya (<7mikron) (E.H, Kosasih & A.S.Kosasih, 2008).
2.      Kelainan bentuk eritrosit (poikilositosis)
3.      Kelainan warna eritrosit
Meliputi   hipokromik   dan   hiperkromik. Hipokromik adalah kelainan warna eritrosit dimana eritrosit berwarna lebih pucat akibat konsentrasi Hb yang kurang dari normal. Sedangkan hiperkromik adalah kelainan warna eritrosit dimana eritrosit berwarna lebih gelap akibat penebalan membran eritrosit (E.H.Kosasih & A.S.Kosasih, 2008).
Beberapa  hal  yang  dapat  mempengaruhi  kualitas  morfologi  eritrosit adalah anemia, kesalahan dalam perlakuan dan persiapan sampel (faktor teknis) saat pemeriksaan seperti hemolisis, penggunaan antikoagulan, pembuatan apusan, pengecatan,  dan  zona  pembacaan  sediaan  apus  darah  tepi  (E.H.Kosasih  & A.S.Kosasih, 2008).
·         Leukosit
Beberapa  jenis  leukosit  atau  sel  darah  putih  terdapat  dalam  darah. Leukosit pada umumnya dibagi menjadi granulosit, yang mempunyai  granula khas, dan agranulosit yang tidak mempunyai granula khas. Granulosit terdiri dari  neutrofil,  eusinofil,  dan  basofil.  Agranulosit  terdiri  dari  limfosit  dan monosit.  Meskipun  leukosit  merupakan  sel  darah,  tetapi  fungsinya  lebih banyak  dilakukan  di  dalam  jaringan.  Apabila  terjadi  peradangan  pada jaringan tubuh, leukosit akan bermigrasi, menuju jaringan yang mengalamiradang dengan cara menembus dinding pembuluh darah (kapiler). Sel darah putih berfungsi untuk perlindungan atau sebagai pertahanan tubuh melawan infeksi   serta   membunuh   sel   yang   bermutasi.   Sel  darah   putih   berinti, bergranula,  dan  bergerak  aktif.  Dalam  keadaan  normal,  disekitarnya  tidak tidak terdapat parasit, bakteri, bekuan darah, ataupun massa lainnya.  Ada 5 jenis sel darah putih yang telah diidentifikasi dalam perifer,  yaitu  netrofil, eosinofil,  basofil,  monosit  dan  limfosit.  Perubahan  sel  darah  putih  sering berkaitan dengan          kelainan-kelainan            preleukemia     pada    kelainan mieloproliferatifkronis, pada berbagai kanker termasuk. Adapu jenis-jenis sel darah putih antara lain:
1)      Basofil :
Basofil mengandung granula kasar berwarna ungu atau biru tua dan  seringkali  menutupi  inti  sel.  Inti  sel  basofil  bersegmen.  Basofil berperan   dalam   reaksi   hipersensitivitas   yang   berhubungan   dengan imunoglobulin  E  (IgE).  Basofil  hampir  mirip  dengan  eosinofil  tetapi memiliki  granula  yang  besar.  Berjumlah  0,5-1%  dari  total  leukosit. Mengandung berbagai enzim, platelet/trombosit, heparin tidak diketahui dengan  pasti,  tetapi  heparin  dan  faktor-faktor  pengaktifan  histamina berfungsi untuk menimbulkan peradangan pada jaringan (D‟Hiru, 2013).
Gambar Basofil
2)      Eosinofil
Eosinofil mengandung granula kasar yang berwarna merah- oranye  (eosinofilik)  yang   tampak  pada  apusan  darah  tepi.  Intinya bersegmen  (pada  umumnya  dua  lobus).  Fungsi  eosinofil  juga  sebagai fagositosis dan menghasilkan antibodi terutama  terhadap antigen yang ikeluarkan oleh parasit. Jumlah eosinofil normal adalah 21-2%, dan akan mengikat   bila   terjadi   reaksi   alergi   atau   infeksi   parasit.   Eosinofi bertambah  pada  serangan  asma,  reaksi  obat-obatan,  investasi  parasit, serta keadaan alergi (termasuk alergi makanan dan minuman). Eosinofil juga bertambah pada wanita yang sedang menstruasi, berbagai macam iritasi,  maupun  kanker  (misalnya  penyakit  karsinoma,  dll.). Eosinofil merupakan fagosit paling lemah,  memiliki kacenderungan  berkumpul  dalam  satu   jaringan   yang  terjadi  reaksi antigen-antibodi karena kemampuan khususnya dalam memfagosit  dan mencerna kompleks antigen-antibodi. Masa hidup eosinofil lebih  lama dari pada neutrofi lsekitar 8-12 jam (Nugraha, 2015).
Gambar Eosinofil
3)      Neutrofil
Berperan dalam respon imun bawaan, neutrofil memiliki masa hidup singkat yaitu sekitar 10 jam dalam sirkulasi. Granula  pada  neutrofil  tidak  bewarna,  mempunyai  inti  sel  yang  terangkai (kadang   terpisah),   dan   banyak   terdapat   granula   pada   protoplasmanya (Handayani dan Haribowo, 2008).
Adanya peningkatan neutrofil dapat terjadi karena terjadinya stress akut. Adanya sel  yang dirusak mikroba akan mengeluarkan sinyal kimiawi untuk memanggil neutrofil dari darah datang, memasuki jaringan yang terinfeksi dan menelan serta merusak mikrobia   dalam   sel   tersebut.   Ketika   terdapat   antigen   maka   neutrofil merupakan  fagosit  yang pertama datang, diikuti monosit  yang berkembang menjadi makrofag besar dan aktif. Makrofag akan memfagositosis antigen dan produknya serta membersihkan sel-sel jaringan yang rusak dan sisa neutrofil yang dirusak dalam proses fagositosis tersebut (Campbell dkk., 2004).
 
4)      Limfosit 
Adalah  jenis  leikosit  yang  jumlahnya  kedua  paling  banyak setelah  neutrofil  (20-40%).  Jumlah  limfosit   pada  anak-anak  relatif banyak dibandingkan jumlahnya pada orang dewasa, dan jumlah limfosit ini  meningkat  bila  terjadi  infeksi virus.limfosit  adalah  mononuklear dalam darah perifer, berinti bulat atau oval,dikelilingi tepian sitoplasma sempit  berwarna  biru,  dan  mengandung  granula.berasal dari sel induk pluripotensial  di  dalam  sumsum  tulang  dan  bermigrasi  ke  jaringan limfoid  (  kelenjar  timus,  limpa,  kelenjar  limfatik,  permukaan  mukosa respiratorius,  dan  permukaan  mukosa  traktus  gastrointestinal).  Ada  2 macam limfosit yaitulimfosit T dan limfosit B.


Gambar Limfosit
5)      Monosit
Jumlah  monosit  kira-kira  5-7%  dari  total  jumlah  leukosit. Monosit adalah jenis leukosit yang paling besar. Inti selnya mempunyai granula kromatin halus yang menekuk berbentuk menyerupai ginjal/ biji kacang.   Monosit           mempunyai   dua   fungsi,       yaitu   sebagai   fagosit mikroorganisme (khusunya jamur dan bakteri) dan benda asing lainnya, serta  berperan  dalam  reaksi  imun.  Monosit  dapat  bertahan  selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, dengan sifatnya yang fagosit, menyingkirkan zat-zat kontaminan, sel-sel yang cedera dan mati, puing- puing/fragmen  sel  (  celluler  debris),  dan  mikroorganisme  patogenik.

·         Trombosit
Trombosit  merupakan  komponen  sel  darah   yang  tidak  memiliki nukleus  (Gibson,  2003).  Trombosit  dihasilkan  oleh  megakariosit  dalam sumsum tulang, memiliki bentuk cakram bikonveks apabila dalam keadaan tidak aktif. Trombosit pada manusia berdiameter 2-4 µm dan memiliki volume 7-8  fL.  Trombosit  memiliki  selubung  eksternal  yang  banyak  mengandung glikoprotein yang berfungsi sebagai reseptor. Ketika trombosit berada dalam keadaan tidak aktif maka tidak teragregasi. Hal ini dikarenakan glikoprotein pada selubung eksternal trombosit mengandung molekul sialic acid sehingga selubung  eksternal  tersebut  memiliki  muatan  negatif  yang  menyebabkan adanya reaksi tolak-menolak. Trombosit         berfungsi dalam hemostasis yang berhubungan dengan koagulasi darah sebagai fungsi utama trombosit.   Fungsi   koagulasi   tersebut   bermula   dari   melekatnya trombosit  ke  kolagen  yang  terpapar  dalam  dinding  pembuluh  darah  yang rusak.  Trombosit  selanjutnya  melepas  ADP  (Adenosin  Dipospat)  sehingga sejumlah   besar   trombosit   bersatu,   kemudian   melepaskan   lipida   yang diperlukan untuk pembentukan bekuan (Waterbury, 2001).

Merokok meningkatkan aktivitas sistem hematologi yang ditandai dengan peningkatan jumlah eritrosit, leukosit, trombosit dan hemoglobin. Karbon monoksida yang terkandung dalam rokok dapat meningkatkan kadar hemoglobin. Nikotin dalam rokok dapat menstimulasi sekresi hormon yang menyebabkan akumulasi sel darah dan agregrasi trombosit, selain itu nikotin dapat menyebabkan penurunan nafsu makan akibat perangsangan di reseptor otak. Penurunan nafsu makan menyebabkan asupan zat gizi makro dan mikro menurun.
Merokok memberikan dampak buruk terhadap kesehatan karena dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, penyakit respirasi, kanker, dan masalah kesehatan lainnya seperti impotensi, kelahiran prematur, cacat bawaan pada janin, berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi, dan lain sebagainya (Kemenkes RI, 2013). Perilaku merokok penduduk Indonesia cenderung meningkat dari 34,2% (2007) menjadi 36,3% (2013). Prevalensi perokok di Jawa Timur sendiri tergolong tinggi yaitu 23,9% sering menghisap rokok dan 5% kadang–kadang merokok, dengan rerata jumlah rokok yang dihisap 11,5 batang per hari (Kemenkes RI, 2013). Angka kematian akibat penyakit yang disebabkan kebiasaan merokok terus meningkat. Pada tahun 2030 diperkirakan angka kematian perokok di dunia akan mencapai 10 juta jiwa, dan 70% diantaranya berasal dari negara berkembang (Infodatin, 2015).
Nikotin dalam rokok dapat menstimulasi sekresi hormon yang menyebabkan akumulasi sel darah dan agregrasi trombosit sehingga menyebabkan pembuluh darah menjadi lengket (Pankaj et al, 2014), selain itu nikotin dapat menyebabkan penurunan nafsu makan akibat perangsangan di reseptor otak (Ilfandari, 2015). Sedangkan peningkatan jumlah leukosit dalam darah sangat dipengaruhi oleh banyaknya rokok yang dihisap dalam sehari, periode mulai merokok dan kandungan didalam rokok yang dihisap (Husen et al, 2015). Perubahan parameter hematologi diduga berperan dalam menentukan faktor resiko terjadinya penyakit penyumbatan pembuluh darah pada perokok kronik.
Protein dibutuhkan oleh sistem hematologi. Pembentukkan hemoglobin dan sel darah erat kaitannya dengan kecukupan energi, protein dan zat besi. Proses pembentukan sel darah membutuhkan ketersediaan energi yang cukup. Ketersediaan energi ini didapatkan dari asupan zat gizi makro dan mikro, termasuk protein (Hardiansyah,2013).
Dalam penelitian ini peneliti ingin mengkaji gambaran parameter hematologi dan asupan protein pada perokok dibandingkan dengan kadar normal serta mencari adakah hubungan asupan protein (nabati dan hewani) terhadap parameter hematologi (kadar Hb, hematokrit, jumlah eritrosit, jumlah leukosit, jumlah trombosit, indeks eritrosit) pada perokok.
            Pemeriksaan sampel darah dilaksanakan di laboratorium klinik Prosenda. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling. Kriteria inklusi sampel penelitian yaitu pegawai yang memiliki kebiasaan merokok (perokok aktif), berjenis kelamin laki–laki, usia < 40 tahun. Sedangkan untuk kriteria eksklusinya yaitu menderita penyakit degeneratif (hipertensi, obesitas, diabetes mellitus, stroke, penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, dan kanker), dan penyakit infeksi.

Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah eritrosit pada perokok meningkat dari batas normal (jumlah eritrosit normal adalah 4,4 - 5,6 x 106 sel/mm3). Hal ini disebabkan karbon monoksida (CO) yang terkandung dalam asap rokok dapat membentuk karboksihemoglobin (COHb). Karboksi hemoglobin dapat menimbulkan anoksia sehingga merangsang produksi hormon eritropoietin. Akibatnya, terjadi peningkatan jumlah eritrosit yang merupakan adaptasi terhadap adanya CO dalam asap rokok.
Hemostasis berasal dari kata haima (darah) dan stasis (berhenti), merupakan proses yang amat kompleks, berlangsung secara terus menerus dalam mencegah kehilangan darah secara spontan, serta menghentikan perdarahan akibat kerusakan sistem pembuluh darah. Ada beberapa komponen penting yang terlibat dalam proses hemostasis yaitu endotel pembuluh darah, trombosit, kaskade faktor koagulasi, inhibitor koagulasi dan fibrinolisis.
Proses hemostasis yang berlangsung untuk memperbaiki kerusakan pada pembuluh darah dapat dibagi atas beberapa tahapan, yaitu hemostasis primer yang dimulai dengan aktivasi trombosit hingga terbentuknya sumbat trombosit. Hemostasis sekunder dimulai dengan aktivasi koagulasi hingga terbentuknya bekuan fibrin yang mengantikan sumbat trombosit. Hemostasis tertier dimulai dengan diaktifkannya sistem fibrinolisis hingga pembentukan kembali tempat yang luka setelah perdarahan berhenti.
Trombosis adalah pembentukan suatu massa abnormal di dalam sistem peredaran darah yang berasal dari komponen-komponen darah. Trombosis terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara faktor trombogenik dengan mekanisme proteksi oleh karena meningkatnya stimulus trombogenik atau penurunan mekanisme proteksi. Menurut teori Virchow, Ada 3 hal yang menjadi penyebab timbulnya trombosis yaitu kelainan pembuluh darah/endotel, perubahan aliran darah yang melambat/stasis dan perubahan daya beku darah/hiperkoagulasi.
Sel endotel pembuluh darah yang utuh akan melepaskan berbagai senyawa yang bersifat antitrombotik dan mencegah trombosit menempel pada permukaannya. Sifat non trombogenik akan hilang bila endotel mengalami kerusakan. Berbagai senyawa protrombotik yang dilepaskan akan mengaktifkan sistem pembekuan darah dan mengurangi aktifitas fibrinolisis sehingga meningkatkan kecenderungan untuk terjadi trombosis. Bila kerusakan endotel terjadi sekali dan dalam waktu singkat, maka lapisan endotel normal akanterbentuk kembali, proliferasi sel otot polos berkurang dan intima menjadi tipis kembali. Bila kerusakan endotel terjadi berulang-ulang dan berlangsung lama, maka proliferasi sel otot polos dan penumpukan jaringan ikat serta lipid berlangsung terus sehingga dinding arteri akan menebal dan terbentuk bercak aterosklerosis. Bila bercak aterosklerotik ini robek maka jaringan yang bersifat trombogenik akan terpapar dan terjadi pembentukan trombus.
Untuk mengetahui adanya gangguan hemostasis dapat dilakukan dengan mengevaluasi faal hemostasis melalui pemeriksaan laboratorium yang secara rutin dapat dilakukan seperti hitung trombosit, masa perdarahan dan faal trombosit (menilai hemostasis primer), masa pembekuan, waktu protrombin plasma dan waktu tromboplastin partial teraktivasi (menilai fase koagulasi), waktu trombin, kadar fibrinogen (menilai pembentukan fibrin) dan kadar D-dimer (menilai proses fibrinolisis).Rasio aPTT < 0,8 x nilai kontrol Dikatakan hiperkoagulasi apabila satu atau lebih dari hasil pemeriksaan hemostasis dengan nilai :
o   Rasio PT < 0,8 x nilai kontrol
o   INR < 0,9
o   Fibrinogen > 400 mg/dl
o   D-dimer > 500 ng/l 
Pemeriksaan darah atau pemeriksaan hematologi secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu pemeriksaan hematologi rutin dan hematologi lengkap. Pemeriksaan hematologi rutin terdiri dari hemoglobin/Hb, hematokrit (HCT), hitung jumlah sel darah merah/eritrosit, hitung jumlah sel darah putih/leukosit, hitung jumlah trombosit dan indeks eritrosit. Pemeriksaan hematologi lengkap (complete blood count) terdiri dari pemeriksaan darah rutin ditambah hitung jenis leukosit dan pemeriksaan morfologi sel/ sediaan apus darah tepi (SADT)/Gambaran darah tepi (GDT)/morfologi darah tepi (MDT) yaitu ukuran, kandungan hemoglobin, anisositosis, poikilositosis, polikromasi (Kemenkes RI, 2011).
Indeks eritrosit adalah batasan untuk ukuran dan isi hemoglobin eritrosit. Istilah lain untuk indeks eritrosit adalah indeks korpusculer. Indeks eritrosit terdiri atas volume atau ukuran eritrosit. Nilai eritrosit rerata dipakai untuk mengetahui volume eritrosit rerata yang di ketahui dari nilai VER dan banyaknya hemoglobin dalam satu eritrosit rerata dapat dilihat dari nilai HER serta untuk mengetahui konsentrasi hemoglobin rerata dalam satu eritrosit dilihat pada nilai KHER. Nilai eritrosit rerata dipakai untuk penggolongan anemia berdasarkan morfologi. Dikenal 3 macam penggolongan anemia yaitu : anemia mikrositik hipokrom, normositik normokrom dan makrositik (Riadi, 2011).
Darah mudah membeku jika berada di luar tubuh. Apabila didiamkan, bekuan akan mengerut dan serum terperas keluar. Cepat membekunya darah ini dapat diatasi dengan penambahan suatu zat yang disebut dengan antikoagulan. Antikoagulan merupakan bahan yang digunakan untuk menghindarkan terjadinya pembekuan darah. Pembekuan dihambat melalui beberapa proses seperti kelasi, pengikatan kalsium atau menghambat pembentukan trombin. Setelah darah masuk ke dalam tabung, darah harus dicampur segera untuk mencegah pembentukan mikroklot. antikoagulan yang banyak di pakai adalah garam EDTA, sitrat dan heparin (Gandasobrata, 2007).
EDTA sering digunakan karena antikoagulan ini tidak berpengaruh terhadap besar dan bentuknya eritrosit dan leukosit, serta mencegah trombosit menggumpal. EDTA yang biasanya digunakan terdiri dalam bentuk larutan atau cair dan kering atau serbuk. Jika menggunakan EDTA yang kering, wadah berisi darah harus digoncang sedikit lebih lama yaitu 1 – 2 menit karena EDTA kering lambat melarut. Lambat melarutnya EDTA ini juga dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan, terutama pemeriksaan darah rutin.Oleh karena itu penggunaan EDTA dalam bentuk larutan lebih disarankan daripada penggunaan EDTA kering atau serbuk (Gandasoebrata, 2007).
Dewasa ini telah tersedia tabung vakum yang sudah berisi antikoagulan EDTA dalam bentuk K2EDTA dan K3EDTA. K3EDTA biasanya berupa garam yang mempunyai stabilitas yang lebih baik dari garam EDTA yang lain karena menunjukkan pH yang mendekati pH darah yaitu sekitar 6,4 (Gandasoebrata, 2007 dan Riadi, 2011).
Tabung vakum ini merupakan tabung yang direkomendasikan oleh National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS) untuk pemeriksaan hematologi karena mempunyai ketepatan kadar antikoagulan dibandingkan dengan EDTA konvensional dalam bentuk Na2EDTA. Dari segi ekonomi, EDTA vacutainer memerlukan biaya yang lebih mahal, maka tidak jarang instalasi laboratorium lebih banyak menggunakan Na2EDTA cair atau serbuk sebagai antikoagulan pada pemeriksaan hematologi khususnya pemeriksaan darah rutin walaupun pemakaian EDTA serbuk atau cair ini sedikit lebih rumit karena volume EDTA harus disesuaikan dengan volume darah. (Riadi, 2011 dan Faizatul, 2016)

                                                     DAFTAR PUSTAKA
Pearce, E.C. 2009. Anatomi dan Fisiologis Untuk Para Medis, PT. Gramedia Pustaka Utama
      Jakarta.
Restuti, A.N.S dan A. L. Suryana. 2018. Asupan Protein Dan Parameter Hematologi Pada
      Perokok. Jurnal Vokasi Kesehatan. 4(2) : 77-90.
 Wahdaniah dan S. Tumpuk. 2018. Perbedaan Penggunaan Antikoagulan K2EDTA Dan
      K3EDTA Terhadap Hasil Pemeriksaan Indeks Eritrosit. Jurnal Laboratorium  
      Khatulistiwa. 2(2) : 114-118.

Permasalahan :
1.     Bagaimana pengaruh kadar hemoglobin dan trombosit pada pasien perokok ? apakah ada peningkatan atau tidak ?
2.      Bagaimana perbedaan kadar hemoglobin antara pasien perokok dan non prokok ?
3.  Mengapa remaja putri memiliki resiko sepuluh kali lebih besar menderita anemia dibandingkan dengan remaja putra ?
4.      Bagaimana mekanisme kerja dari obat antikoagulan ?
5.   Manakah yang lebih berbahaya antara perokok pasif dan perokok aktif ? lalu bagaimana efeknya terhadap trombosit darah ?










Komentar

  1. Hai Rahmila, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan no 4. Mekanisme kerja obat antikoagulan adalah dengan menghambat atau mencegah kerja faktor pembekuan darah untuk terjadinya pembekuan darah, salah satunya yaitu Dengan cara mencegah pembentukan Fibrin yang merupakan salah satu faktor pembekuan Darah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih lismi, iya betul sekali sedikit menambahkan, jadi pada saat terjadi luka/ cedera/ kerusakan pada lapisan bagian dalam pembuluh darah (endotel), akan terjadi serangkaian proses yang mengubah sifat sel-sel endotel menjadi lebih pro koagulasi. kerusakan pada lapisan endotel menyebabkan protein-protein dibawah lapisan endotel terpapar aliran darah. paparan ini menyebabkan terjadinya perlekatan platelet ke lapisan endotel yang mengalami cedera, sintesis serta sekresi molekul-molekul vasokonstriktor maupun aktivator platelet yang selanjutnya berperan dalam agregasi platelet dan pembentukan platelet plug (sumbatan platelet) untuk memperbaiki kerusakan tersebut. bersamaan dengan proses tersebut, juga terjadi aktivasi sistem koagulasi melalui jalur intrinsik dan ekstrinsik yang menghasilkan trombin dan fibrin untuk menstabilkan platelet plug. koagulasi atau pembekuan darah disebabkan oleh perubahan fibrinogen menjadi fibrin oleh enzim trombin

      Hapus
  2. Hy rahmila. Saya ingin memberi tanggapan untuk pertanyaan no 1 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara merokok dengan kadar trombosit.
    Hasil penelitian ini serupa dengan yang
    dikemukakan oleh Suwansaksri et al.10
    yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dari parameter trombosit (kadar trombosit, Mean Platelet Volume, Platelet Distribution Width dan Platelecrit) antara perokok dan non perokok ini berdasarkan Jurnal e-Biomedik (eBm), Volume 5, Nomor 2, Juli-Desember 2017
    Hubungan Merokok dengan Kadar Hemoglobin danTrombosit pada Perokok Dewasa.

    Namun hasil yang berbeda ditemukan
    pada penelitian serupa. Penelitian yang
    dilakukan oleh Varol et al. menunjukkan
    hasil yang berlawanan dengan hasil penelitian sebelumnya yaitu terdapat penurunan jumlah trombosit pada perokok jika dibandingkan dengan nonperokok.
    Terdapt beberapa hal yang dapat
    menimbulkan perbedaan hasil penelitian seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, dan juga etnis. Peneliti tidak meninjau lebih lanjut mengenai faktor-faktor tersebut sehingga dapat mengganggu
    nilai dari kadar trombosit.
    Konsumsi alkohol juga dapat memengaruhi kadar trombosit pada
    perokok. Teori mengatakan bahwa alkohol dapat menyebabkan trombositopenia.
    Sekian rahmila. Semoga bisa terbantu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih yesy, sangat membantu sekali, sedikit menambahkan berdasarkan jurnal yang saya baca, yaitu pada penelitian Devina dan Wibowo (2017), jadi asap rokok ini mengandung sekitar 4000 senyawa kimia seperti karbon monoksida, karbondioksida, fenol, emonia, formaldehid,nikotin, nitrosamin dan tar yang sangat berbahaya.hemoglobin inilah yang nantinya akan berikatan dengan karbon dioksida untuk mengembalikan oksigen ke paru. karbon monoksida yang terkandung dalam rokok memiliki afinitas yang besar terhadap hemoglobin, sehingga memudahkan keduanya untuk saliing berikatan. hal ini yang menyebabkan hemoglobin tidak dapat mengikat oksigen untuk dilepaskan ke berbagai jaringan sehingga menimbukan terjadinya hipoksia jaringan. tubuh manusia akan berusaha mengkompensasi penurunan kadar oksigen dengan cara meningkatkan kadar hemoglobin. merokok secara aktif maupun pasif memiliki pengaruh terhadap trombosit. seseorang yang sudah lama terpapar asap rokok mempunyai potensi terjadi peningkatan agregasi trombosit dan eksresi metabolit tromboksan.

      Hapus
  3. nomor 3 : remaja putri memiliki resiko sepuluh kali lebih besar menderita anemia dibandingkan dengan remaja putra. remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya dan sedang berada dalam masa pertumbuhan sehingga membutuhkan lebih banyak asupan gizi. biasanya remaja putri umumnya sangat memperhatikan bentuk tubuh sehingga banyak membatasi konsumsi makanan. konsumsi makanan menjadi tidak stabil dan gizi kurang terpenuhi. apabila asupan makin kurang, cadangan besi banyak dibongkar, keadaan seperti inilah yang mempercepat terjadinya anemia. gejala yang muncul antara lain cepat lelah. pucat (kulit, bibir, gusi, mata dll), jantung berdenyut kencang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik terimakasih arion, jadi penyebabnya karena siklus menstruasi yang diderita oleh remaja putri. saya pernah baca dari literatur bahwasanya. kadar hemoglobin pada remaja putri menurun selain disebabkan oleh kehilangan darah sewaktu menstruasi dan kurangnya asupan zat besi selama konsumsi, dapat juga disebabkan oleh penyakit kronis seperti TBC, dan hepatitis, perdarahan, umur, sosial ekonomi dan demografi, pendidikan serta paparan asap rokok. lalu mengapa paparan asap rokok ini jga dapat beresiko terjadinya anemia ?

      Hapus
    2. baik jadi menurut saya, mengapa paparan asap rokok dapat beresiko terjadinya anemia, karena komponen dalam asap rokok yang utama adalah tar dan radikal bebas. tar dalam asap rokok dapat menyebabkan kerusakan sumsum tulang sehingga memicu terjadinya anemia aplastik (Pera, 2003). radikal bebas dapat menyebabkan lisisnya eritrosit, peroksidasi lipid dan denaturasi hemoglobin sehingga meningkatkan resiko terjadinya anemia hemolitik (Pera, 2003).

      Hapus
    3. terimakasih arion jadi dapat disimpulkan bahwa pada remaja putri sangat rentan terkena anemia karena beberapa aspek yang telah saudara paparkan tadi. sangat membantu :)

      Hapus
  4. Assalamualaikum mila,saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2 : pada penelitian sebelumnya, berdasarkan literatur yang saya baca menyatakan terdapat perbedaan kadar hemoglobin darah pada pria perokok dan bukan perokok, dimana kadar hemoglobin pada pria perokok lebih tinggi dari pada yang non perokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam, baik terimakasih nada. jadi sebelumnya saya sedikit bingung karena banyak pendapat yang berbeda dari berbagai literatur yang saya baca, dimana ada yang menyatakan bahwa tidak adanya korelasi antara kadar hemoglobin dengan perokok, namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh oranh lain lagi, didapatkan peningkatan hemoglobin pada perokok yang disebabkan oleh paparan terhadap karbon monoksida (co) yang merupakan salah satu komponen rokok

      Hapus
    2. jadi mila, ini berkaitan dengan jawaban yang dipaparkan oleh saudari yesy tadi, jadi perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa orang tersebut itu penyebabnya karena ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin pada tiap individu seperti usia, jenis kelamin, asupan gizi, aktivitas fisik, ketinggian daerah tempat tinggal, kebiasaan lamanya menghisap rokok, obat-obatan yang dikonsumsi serta alat dan metode tes yang digunakan. peneliti tidak meninjau lebih lanjut mengenai beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin yang dapat berdampak pada nilai dari kadar hemoglobin responden.

      Hapus
    3. baik terimakasih nada , sangat membantu :)

      Hapus
  5. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1, asap rokok mengandung sekitar 4000 senyawa kimia seperti karbon monoksida, karbondioksida, fenol, amonia, formaldehid dll. hemoglobin adalah suatu protein tetrametrik dalam eritrosit yang berikatan dengan oksigen serta bertugas dalam melepaskan oksigen tersebut kedalam jaringan. karbon monoksida yang terkandung didalam rokok memiliki afinitas yang besar terhadap hemoglobin sehingga mempermudah keduanya untuk saling berikatan membentuk karboksihemoglobin. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amelia et al bahwasanya tidak ada hubungan yang bermakna antara derajat merokok dengan hemoglobin. serta berdasarkan hasil penelitian kadar trombosit pun masih dalam rentang normal tidak ada responden yang memiliki kadar trombosit yang rendah ataupun tinggi.
    Semoga membantu :)

    BalasHapus
  6. Hai rahmila, saya bantubjawab no 5 ya, jadi yang membedakanperokok aktif dan perokok pasif yaitu, dimana perokok aktif adalah seseorang yang benar-benar memiliki kebiasaan merokok setiap hari. merokok sudah menjadi bagian dari hidupnya. mereka yang berada disekitar perokok aktif atau terpapar asap rokok itu disebut perokok pasif. bagi perokok aktif itu sendiri ada beberapa tipe menurut WHO yaitu : 1. perokok ringan, merokok 1-10 batang perhari. 2. perokok sedang, merokok 11-12 batang per hari. 3. perokok berat, merokok lebih dari 20 batang per hari. menurut saya manakah yang lebih berbahaya, tentu jawabannya adalah perokok pasif, mengapa demikian ? karena pada perokok aktif sebagian zat-zat yang terkandung didalam rokok tidak semua dihirup oleh perokok aktif. zat-zat yang terkandung didalam rokok tidak membahayakan secara langsung, disebabkan adanya kemampuan tubuh untuk mendegradasi atau metabolisme nikotin dengan cepat dan mengeluarkannya, sehingga mencegah penumpukan zat tersebut didalam tubuh. karena zat yang didalam rokok seperti nikotin, tar, timah hitam dan karbon monoksida yang masuk kedalam tubuh perokok aktif telah tersaring melalui filter, filter pada rokok dapat mengurangi asupan tar dan memberikan anggapan bahwa lubang ventilasi pada perokok menyerap lebih bayak udara segar dan racun yang masuk kedalam tubuh lebih sedikit, tetapi jika dikonsumsi secara terus menerus akan membahayakan kesehatan. sedangkan pada perokok pasif zat berbahaya yang masuk kedalamm tubuhnya lebih besar karena tidak ada filter atau tidak disaring, sehingga bahaya yang harus ditanggung oleh perokok pasif tiga kali lipat dari perokok aktif.. perokok pasif secara tidak langsung telah memasukkan zat-zat yang berbahaya masuk kedalam tubuh bersamaan dengan asap rokok yang tanpa sengaha dihisap, kondisi ini lebih membahayakan karena perokok pasif tida terbiasa dengan asap yang dihirup tubuh mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih Kristin, jadi dapat disimpulkan bahwa perokok pasiflah yang lebih berbahaya dari pada perokok aktif,lalu bagaimana dengan efeknya pada trombosit darah apakah meningkat juga pada perokok pasif atau bagaimana ?

      Hapus
    2. baik jadi menurut saya tentu kadar trombosit pada perokok pasif juga akan meningkat. zat berbahaya ini menggantikan posisi oksigen yang memang seharusnya menempel pada sel darah merah. karbon monoksida yang menempel pada sel darah merah akan membuat peredaran oksigen dalam tubuh menjadi terganggu. selain itu nikotin juga merangsang trombosit untuk bergerombol. trombosit yang menggumpal akan menyumbat pembuluh darah yang sudah menjadi sempit akibat asap yang mengandung CO dari rokok . serta adanya perubahan pada fungsi trombosit terutama fungsi agregasi. seseorang yang sudah lama terpapar asap rokok mempunyai potensi terjadinya peningkatan agregasi trombosit dan eksresi metabolit tromboksan dari trombosit

      Hapus
    3. Baik terimakasih kristin, sangat membantu :)

      Hapus
  7. Hai Rahmila saya akan membantu menjawab nomor 4 : Antikoagulan adalah obat yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah. Antikoagulan diperlukan untuk mencegah terbentuk serta meluasnya trombus dan emboli, obat golongan ini juga diperlukan untuk mencegah bekunya darah in vitro pada pemeriksaan laboratorium dan transfusi. Obat antikoagulan yang ideal adalah yang dapat mencegah trombosis patologik dan membatasi cedera reperfusi, tetapi memungkinkan tubuhmelakukan respons normal terhadap cedera vaskular dan membatasi pendarahan. Menurut cara kerjanya antikoagulan dapat dibagi menjadi 2 golonganyaitu: (1) yang langsung (direk) pada pembekuan darah dan antitrombin III baik in vivo maupun in vitro, contohnya adalah heparin; (2) yang tak langsung(indirek) mempunyai khasiat menghambat pembekuan darah denganmemutuskan hubungan antara faktor pembekuan (II, VII, IX dan X) yangdibentuk di hati yang memerlukan adanya vitamin K, bekerja secara in vivo, contohnya adalah antikoagulan oral. Antikoagulan oral danheparin menghambat pembentukan fibrin dan digunakan secara profilaktikuntuk mengurangi insiden tromboemboli terutama pada vena. Kedua macamantikoagulan ini juga bermanfaat untuk pengobatan trombosis arteri karenamempengaruhi pembentukan fibrin yang diperlukan untuk mempertahankangumpalan trombosit. Pada trombus yang sudah terbentuk, antikoagulan hanyamencegah membesarnya trombus dan mengurangi kemungkinan terjadinyaemboli, tetapi tidak memperkecil trombus

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasi indah sari, jadi antikoagulan ini dapat menghambat faktor pembekuan darah. sangat membantu, terimakasih :)

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Hai Mila, Saya ingin bertanya. Jadi, baru-baru ini Saya mengetahui bahwa Vape memiliki dampak yang kebih buruk dibandingkan dengan rokok biasa (tembakau). Padahal, mayoritas publik terutama di daerah pelosok beranggapan bahwa Vape merupakan cara atau teknik baru dalam merokok yang lebih Aman jika dibandingkan dengan rokok tembakau. Pertanyaan saya: mengapa Vape lebih berbahaya dibandingkan dengan rokok biasa? Bagaimana penjelasan ilmiahnya?
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Ragil, baik disini saya akan sedikit memaparkan kenapa sih rokok vape itu justru lebih berbahaya dari pada rokok tembakau, jadi menurut saya, dsni vape itu kan terdiri dari sebuau btrai, sebuah catridge yang berisi cairan dan sebuah elemen pemanas yang dapat menghangatkan dan menguapkan cairan tersebut ke udara, jadi cairannya lah yang justru lebih berbahaya seperti paraamino hidrokarbon, metal. Ada kemungkinan dicampurnya cairan vape dengan bahan THC ( tetrahydrocannabinol) atau kannabis yang kemudian terevaporasi dan menyebabkan gangguan pada paru. Cairan vape biasanya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, dll. Menurut dr. Nauki kunugita seorang peneliti national institute of public health di jepang, dalam salah satu rokok elektrik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibanding satu batang rokok biasa, serta kandungan nikotinnya yang jauh lebih tinggi dari pada rokok biasa. Selain itu, tidak terdapatnya filter pada rokok vape ini, jadi zat yang berbahayapun dapat dengan mudah masuk kedalam tubuh. Kemudian dalam penggunaannya pun tidaklah higenis, kenapa? Karena tentunya digunakan berkali-kali tnpa dicuci, dapat dipastikan akan adanya bakteri* lain yang nantinya dapat menimbulkan berbagai efek samping lainnya.

      Semoga membantu :)
      Terimakasih.

      Hapus
  10. Terimakasih atas artikelnya, sangat bermanfaat sekali🙏

    BalasHapus
  11. Hay milla saya akan mencoba memjawab permasalahn no. 2 menurut literatur yang saya baca terdapat perbedaan kadar hb pada orang perokok dan non perokok . Pada perokok berat terjadi
    peningkatan kadar hemoglobin,
    Peningkatan ini terjadi karena reflek dari
    mekanisme kompensasi tubuh terhadap
    rendahnya kadar oksigen yang berikatan
    dengan hemoglobin akibat digeser oleh
    karbon monoksida yang mempunyai
    afinitas terhadap hemoglobin yang lebih
    kuat. Sehingga tubuh akan meningkatkan
    proses hematopoiesis lalu meningkatkan
    produksi hemoglobin, akibat dari
    rendahnya tekanan parsial oksigen (PO2) di
    dalam tubuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih nora, jafi dapat disimpulkan bahwa pada pasien perokok terjadi peningkatan hemoglobin dari pada pasien non perokok

      Hapus
  12. Hai mila saya akan mencoba menjawab no 3 hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya dan sedang dalam masa pertumbuhan shg membutuhkan asupan zat besiblebih banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai nabila, terimakasih. Saya setuju dengan pendapat anda, jadi ketika seseorang yang memiliki sistem imun yang rendah, dan siklus menstruasi yang tidak lancar, sehingga sangat rentan sekali terkena anemia,

      Hapus
  13. Hai kak, mau nanya nih, penyakit yang sering terjadi pada hematologi apa saja ya?

    BalasHapus
  14. Hai Rahmila, Baiklah saya akan mrmbantu menjawab pertanyaan no.4 tentang mekanisme kerja dari Antikoagulan yakni dengan cara menghambat kerja protein yang terlibat dalam proses pembekuan darah, yang disebut faktor pembekuan darah. Seringkali obat antikoagulan disebut juga sebagai obat pengencer darah. Namun sebenarnya obat antikoagulan tidak mengencerkan darah, melainkan memperpanjang waktu darah untuk membeku.
    Terdapat beberapa golongan antikoagulan yang sudah diklasifikasikan, yaitu:
    1.Warfarin. Warfarin termasuk golongan obat antikoagulan coumarin yang bekerja dengan menghambat kerja vitamin K di dalam darah. Vitamin K berperan penting dalam pembekuan darah, terutama untuk mengaktifkan beberapa faktor pembekuan darah. Jika kerja vitamin K dihambat oleh warfarin, maka darah akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membeku.
    2. Penghambat faktor Xa. Obat antikoagulan ini bekerja dengan menghambat kerja faktor Xa yang berperan dalam proses pembekuan darah, baik pada darah yang sudah menggumpal maupun yang belum. Contoh obat golongan ini antara lain adalah fondaparinux, rivaroxaban, dan apixaban.
    3. Heparin. Heparin merupakan obat antikoagulan yang berperan dalam menghambat thrombin sekaligus menghambat faktor Xa yang berperan dalam pembekuan darah. Terdapat dua jenis heparin, yaitu high molecular weight atau unfractionated heparin (UFH), dan low molecular weight heparin (LMWH). UFH biasa disebut dengan heparin saja, sedangkan contoh obat golongan LMWH antara lain adalah enoxaparin, nadroparin, dan parnaparin.
    4. Penghambat thrombin. Penghambat thrombin merupakan obat antikoagulan yang berfungsi mencegah aktivasi thrombin yang berperan dalam pembekuan darah. Contoh obat golongan ini adalah dabigatran. Semoga bermanfaat 😊

    BalasHapus

Posting Komentar